>

Pelatihan Kesabaran (1)

Pulang sekolah aku coba berhenti ke salah seorang pedagang buah. Yang jualan anaknya si pedagang. Pedagangnya aslinya sedang ke pasar. 

Ku tanya harga durian. Katanya, harganya bervariasi. "Mulai berapa?" Tanyaku. Ia pun menjawab 70 ribu. 

"Oh, kirain ada yang 50 rb" Ucapku. 

"Kalau ibu makenya nanti sore, nanti ibu bisa balik lagi. Tadi mamaq cuma pesan harganya segitu. Mungkin nanti kalau sama mamaq bisa nawar" Ucap si anak pedagang dengan sopan. 

"Oh, begitu ya" Responku. 

"Beli di saya saja kalau begitu" Ucap seorang perempuan nimbrung. Aku melihat durian yang ia tunjukkan masih agak hijau dan agak kecil. Kayak durian dipaksakan dipetik. 

"Maraq ruene odak!" Ucapku dengan bahasa Sasak. 

"Ne araq ke duren teriq odaq!" Ucapnya. 

Aku hendak berpamitan ke anak penjual tadi sebagai bentuk sopan santun. Perempuan tadi lanjut nimbrung. 

"bareh tene taoq te jual. Ye terus ne beli" Ucapnya seakan menertawakanku. Agak julid. Sebenarnya kesel juga dengernya. Tapi aku tak menunjukkan kekesalanku. Aku pamit ke anak tadi sambil tersenyum ramah. 

Rasa kesalku pada perempuan itu masih belum hilang aku tiba di rumah. Tapi aku mencoba menetralisir itu. Ngapain orang tak penting seperti itu ku respon. Abaikan saja. Toh aku gak akan balik ke tempat itu. Bad mood aku gara2 dia. Eh, emang bener gara-gara dia? Aku aja yang mungkin level kesabaranku masih rendah. 

Tapi ngomong-ngomong, aku sekarang bertanya mengapa orang-orang yang jualan di FB bisa posting harga durian di angka 15 ribu? Sementara di tempat kami masih dengan harga sebegitu tinggi? 

Mungkin duren yang tadi kualitasnya premium. Makanya harganya segitu. 

Astaghfirullah hal'azim. 

Terima kasih diriku. Tadi kau bisa memberi respon dengan sangat baik, tidak terbawa perasaan. Meski ku akui juga ngapain siq kamu ngatain duren orang "odak"? 😂😂 

Kamis, 13 Agustus 2026

Previous
Next Post »