Latihan kesabaran itu hari ini melalui perantara anakku. Meski awalnya bikin kesel akhirnya happy ending. Aku bisa menetralisir perasaanku. Membuang rasa marah yang hampir meledak.
Ceritanya begini. Kami pergi ke BNI cabang Masbagik untuk ngurus PIP. Sehari sebelum pergi beberapa kali ku suruh anakku bertanya ke teman-temannya terkait persyaratan yang dibawa. Katanya hanya bawa KTP dan buku tabungan. So, dengan semangat was wes wus, kami berangkat.
Nyampe di bank sekitar pukul 9.30 am. Anakku memasuki ruang tunggu di lantai dua setelah mengisi formulir. Dan aku menunggu di lantai satu. Nyaman tempatnya, tapi dingiiiin. Ku lihat dua AC menyala.
Aku sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan ruangan ber AC. Kecuali pada kondisi tertentu. Di mobil (punya orang) pun aku selalu meminta untuk dimatikan AC nya. Di bus yang menyediakan AC, aku juga selalu mematikannya. Sementara, di ruangan bank ini tentu tak bisa ku minta satpam mematikan AC ruangan, atau mengecilkannya. Pastinya ini kebutuhan semua orang mengingat Masbagik lokasinya di dataran rendah, yang suhunya jauh beda dengan Tetebatu, tempatku tinggal.
Kepalaku mulai terasa agak nyut-nyut. Aku mencoba keluar ruangan tersebut. Perbedaannya ekstrim. Di luar hangat, aku suka dengan itu. Tapi masalahnya, di luar bau rokok. Banyak orang ngerokok. Saking fokusnya pada asap rokok, aku lupa merhatiin polisi yang jaga ngerokok atau tidak. Yang pasti ku lihat polisi tersebut pegang HP. Di samping nya ada kopi. Kalau ngopi masak gak ngerokok? Ih, ngapain juga ku urus... Hahaha
Aku masuk kembali ke ruang tunggu. Daripada lelah dengan asap rokok, mending nerima hawa dingin di dalam ruangan. Toh aku pakai jaket meski tipis. Aku mencoba mencari posisi yang jauh dari AC. Pojok ruangan dekat pintu masuk. Aku berdiri di sana cukup lama. Sambil memperhatikan apa yang terjadi di sekitar.
Ku buka beberapa website untuk kebutuhan membaca. Setiap kata yang ku baca lewat begitu saja. Tak mau mampir di kepala. Mungkin otakku mulai eror efek kondisi ruangan tersebut. Kalau menunggu, biasa saja. Aku tak pernah mengeluhkan hal yang berkaitan dengan itu, yang penting alasannya jelas.
Pukul 10.30 anakku terlihat menuruni tangga, lalu menghampiri ku.
"Bu, di suruh bawa ijazah" Ucapnya.
"Loh, emang temannya gak ngasih tau kemarin?" Tanyaku.
"Nggak!" Jawabnya.
"Harus hari ini kata petugasnya tadi" Imbuhnya.
Aku ngobrol sebentar dengan satpam yang ada disana. Aku juga yang bego kenapa tadi pagi saat datang tidak bertanya ke satpam apakah persyaratan sudah lengkap atau tidak. Kalau belum lengkap kan bisa lengkapi lebih awal tadi.
Tapi bagaimana pun semuanya sudah terjadi. Satpam memberi informasi bahwa nanti siang bank buka dari jam 13.30 sampai 15.00. Setelah berterima kasih aku pun beranjak keluar, ambil motor, bayar parkir lalu beranjak pulang. Ngomong-ngomong soal parkir, biaya parkir gak ikutan naik meski harga bensin naik.
"Ini jadi pelajaran, ke depannya kalau nyari informasi yang lengkap!" Ucapku ke anakku.
Agak kesal sebenarnya. Bukan ke anakku, tapi ke diri sendiri. Aku yang salah. Kenapa pada tahap pertama aku tak bertanya langsung ke pihak bank tentang persyaratan yang harus dibawa.
Anakku mungkin merasakan bagaimana kesalnya diriku. Sepanjang perjalanan aku mencoba menetralisir perasaanku. Berusaha keras agar tak berdampak kepadanya.
Dengan usaha keras, alhamdulillah berhasil.
Perasaan kesal tersebut perlahan menghilang.
Kami berangkat ke bank lebih awal dari jam buka, berharap mendapat pelayanan lebih awal agar semua urusan bisa selesai dengan baik dan cepat. Dengan begitu, setelah urusan selesai waktu yang tersisa (sebelum Asar) bisa kami pakai untuk jalan-jalan. 😃😃
Jum'at, 14 Agustus 2026
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon