>

Catatan 77: Tidak Ada Pilihan Ketiga

Pernah suatu hari aku benci banget sama seseorang. Tentu saja kebencian itu punya sebab atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut latar belakang. Karena kebencian yang sangat mendalam itu, maka semua barang-barang pemberian orang yang bersangkutan ku buang, ku bakar, dan ku injak-injak sebagai kain pel. Ku kira semua tindakanku itu akan bisa menghapus semua rekaman tentang orang itu di kepalaku, tetapi ternyata tidak sama sekali. Ingatan tetap sama, gak ada perubahan sama sekali.

Lalu terpikir olehku, jika memang benci ya benci saja, gak usah berbuat zalim sama benda. Dari pada benda-benda itu dizalimi dengan beragam cara, mendingan di sedekahkan saja kepada orang-orang sekita yang membutuhkan. Paling ekstrim dibuat kain pel kalau bendanya berbahan kain, bukan untuk niat menzalimi tetapi menambah kemanfaatan benda tersebut, atau diberikan ke tukang ojek. Biar orang yang ngasih suatu hari bisa liat kalo bajunya dipake tukang ojek. Coba pikirkan baik-baik, gimana perasaanmu saat kau ngasih seseorang baju lalu baju itu dikasih ke orang lain, tukang ojek misalnya. Itu bisa masuk kategori balas dendam paling seksi, udah bisa transfer sakit hati, bisa beramal soleh juga... haha.


Kesimpulannya, kebencian yang kita miliki terhadap seseorang jangan sampai membuat kita zalim kepada orang lain, atau kepada benda-benda karena bagaimanapun “setiap perkataan, perbuatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaannya”, disamping itu dalam kitab suci juga dikatakan bahwa “setiap apa yang ada di muka bumi bertasbih kepada Allah”. Maka, apapun itu, jadikanlah peluang bagi kita untuk menjadi mulia di hadapan Tuhan. Sebab dalam sebuah peristiwa/kejadian, kita hanya memiliki dua pilihan, “dengan peristiwa itu kita akan menjadi mulia atau hina, tak ada pilihan ketiga”.
First