>

Catatan 93: Musyawarah Konyol

Jika sebelum musyawarah dilakukan hasil musyawarah sudah bisa ditentukan, untuk apa musyawarah dilakukan? Bukankah itu suatu tindakan konyol yang bersifat sia-sia? Memang benar jika kita berada pada sudut pandang orang yang tak memiliki kepentingan. 

Hari ini kudapatkan informasi bahwa sebuah kelompok masyarakat melakukan sebuah musyawarah untuk menentukan rapat kerja terkait dengan perencanaan yang telah mereka susun beberapa minggu sebelumnya. Dalam musyawarah itu, juga akan ditentukan siapa yang akan menjadi pimpinan kelompok. Secara kapasitas, semua telunjuk akan menuju ke satu orang yang memang menjadi inisiator dalam kelompok tersebut. Tentu, ketika berfikir rasional itu wajar-wajar saja mengingat visi misi yang dimiliki oleh kelompok paling difahami oleh orang tersebut. Namun, tidakkah mereka (baca: peserta musyawarah) memahami bahwa proses tersebut adalah bagian dari pembangunan citra seseorang untuk suatu maksud jangka panjang? Kalau jangka pendeknya tentu berkaitan dengan finansial serta citra diri dalam jaringan yang sudah dibangun. 

Mengapa hal tersebut ku bahas disini? Apa kepentinganu membicarakannya? 


Tak ada kawan, aku hanya ingin berbagi analisis terkait suatu hal yang ku ketahui, sebagai salah satu untuk menjaga kewaspadaan jika ternyata suatu hari forum/musyawarah yang sama juga kita alami. Sebab bagaimanapun kita ketahui bersama bahwa hidup ini adalah siklus, apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi juga dimasa sekarang atau di masa depan, hanya saja dengan subjek yang berbeda. Apalagi mengingat kondisi hari ini yang lebih dominan menampilkan wilayah abu-abu, maka kewaspadaan perlu dijaga, lebih-lebih kepada orang yang mengatakan peduli kepada kita, tetapi secara logika dia bukan siapa-siapa, kecuali seorang antek asing berwajah pribumi yang bekerja demi sesuap nasi dan mengorbankan harga diri.

Tetapi, mengingat sifat kemakhlukan kita yang tak luput dari kesalahan, maka analisis yang ku buat mungkin saja salah atau tak sesuai dengan fakta sebenarnya. Ini bisa dijadikan pertimbangan atau malah diabaikan saja jika kau tak sependapat kawan. Sebab, ini adalah respon yang diberikan atas stimulus yang ditangkap oleh alat-alat inderaku.

Meski begitu, jika kau punya masukan, mari tuliskan itu kawan. Kita jadikan ini sebagai media untuk menjadi lebih baik lagi 
(Emang sekarang udah baik? May be Yes, May be No!)
Previous
Next Post »