Hari ini aku datang lagi ke kampus, bimbingan artikel plus
minta tanda tangan. Hmm... lok ditanya tentang kebosanan, bosan yang ku miliki
udah pangkat seratus. Ya, iya lah dari bulan kemarin temanya sama, “minta tanda
tangan”. Tapi, pikir positif aja dech, itung-itung belajar untuk mengubah rasa
bosan menjadi amal soleh. Emang bisa?

“Adek, sekarang ini ada kuliah umum. Jadi, semua dosen pasti
disana. Jadi, daripada begong nunggu disini mending kita kesana saja, ikutan.
Siapa tahu dapat inspirasi” Jelasku sebelum melangkahkan kaki ke lokasi.
“Emang kita bisa ikut?” Tanya sang adik tingkat.
“Ya dunk! Yuk mari!” Ujarku kemudian melangkahkan kaki
menaiki tangga dengan langkah seksi ala Syahrini. Oh ya, sekarang Syahrini apa
kabar ya? Lama gak up date infonya.
Tiba di lokasi yang dimaksud dan bertemu dengan beberapa
orang mahasiswi yang senyam-senyum ala kucing yang lagi malu-malu untuk
mendekati lokasi. Aneh bin ghaib kan, masak udah jadi mahasiswi kok malu
dipelihara? Mending pelihara ayam saja, ntar kalo lebaran bisa dipotong.
Registrasi dilakukan. Dengan sangat bangga ku katakan, “Wah
aku urutan yang ke 201!” Tapi tunggu bentar, bukan yang ke 201 seharunya tetapi
yang ke 121. Pasti mahasiswa tipe ngangas dah tadi yang ngisi daftar sampe gak
bisa ngitung kalo angka berikutnya yang harus ditulis adalah 120. Eh, kok malah
nulis 200? Maka, dengan kebaikan ala Yusuf Mansur ku ubah angka yang tadinya ku
tulis 201 menjadi 121 plus angka di atasnya juga ikut ku ganti dengan angka
120. So, sekarang semua tertata dengan adil, jadi angka-angka yang lain gak
perlu protes lagi.
Stadium General. Sebuah spanduk terpampang di belakang meja
para pembicara. So, kuliah umumnya bakalan pake bahasa Inggris, apalagi
memperhatikan nama-nama narasumber yang tertera di spanduk yang berasal dari
Finlandia dan Spanyol. Hmm, balik kanan adalah tindakan terlarang yang akan
melukai harga diri. So, dengan tampang seorang ahli bahasa ku ajak sang adik
tingkat mengambil tempat duduk.
Acara dimulai, maka salah seorang dosen membuka acara.
Secara, aku sudah siap-siap pasang telinga mo denger bahasa inggris-nya sang
dosen. Asumsiku, sang dosen bakalan pake bahasa Inggris selama acara
pembukaannya. Dugaanku meleset meski gak sampe jatuh, dosen itu ternyata pake
bahasa inggris sedikit saja, lok dipersenin ya sekita 25% lah, selebihnya pake
bahasa Indonesia. Ini bentuk pemahaman terhadap audiens yang rata-rata gak
faham dengan bahasa Inggris atau emang bahasa Inggrisnya segitu doang... tapi
yang pertama lebih banyak benernya dech!
Lalu, narasumber pertama dari Turku University – Finland memberikan
sambutannya, sama dengan yang tadi pake bahasa Indonesia juga tapi hanya
selamat pagi doang. Seterusnya pake bahasa inggris. Beberapa kosa kata ku
fahami dengan baik, tetapi tidak sebaik Julia Perez dalam memahami bahasa
inggrisnya Gaston.
“Kak, tu orang ngomong apa sih?” Tanya sang adik tingkat
tanpa pernah ku duga sebelumnya.
“Oh, dia bilang akan tinggal di Indonesia selama enam bulan”.
Jawabku dengan penuh percaya diri. Entah itu benar atau enggak urusan mereka
lah, yang jelas aku cuma denger six month-nya. Ckckck.
Waktu terus bergulir bersama rasa gerah yang diam-diam mulai
menyerang. Aduh, panitia gimana sih, kok gak ngidupin AC, nggak liat tuh
sampe-sampe pemateri buka jas saking gerahnya. Hmm... gak faham banget jadi
orang. Tapi, ngomong-ngomong, kalo diperhatikan AC gak perah dimatiin kok, coz
pake AC alami dari lubang-lubang udara yang ada di ruangan, bertengger
mengalahkan rajawali yang lagi goyang itik.
Pembicara berikutnya mengambil peran, dari University of
Sevilla – Spain. Orangnya botak full, mengalahkan Ipin dengan satu urat
rambutnya. Kalo diibaratkan lantai, siapapun yang jalan pasti kepeleset deh
saking licinn ya tu kepala. Hmm... biasa tanda orang pintar! Jadi, kesimpulan
sementara,”kalau kamu mau pintar tinggal botakin kepala seperti beliau, jangan
seperti Ipin!” Peace! Becanda bro!
Meski begitu, dengan segala kebingunganku selama mengikuti kuliah umum tersebut, ada beberapa manfaat yang bisa ku dapatkan dari event tersebut:
- Latihan listening dan inspirasi buat belajar bahasa inggris lebih semangat lagi.
- Bisa ngukur sejauh mana kemampuan bahasa inggris yang dimiliki (Menyedihkan banget bro!)
- Bersedekah tepuk tangan (meski gak faham sama apa yang dibicarkan) saat para audiens ikutan tepuk tangan
- Lirik-lirik peserta kuliah yang ternyata gak ada yang relevan buat dijadikan objek keterpesonaan.
- Dll yang sifatnya rahasia.
So, buat panitia thanks udah ngadain acara meski tadinya
sempat protes dikit, tenang ja! Itu gak serius-serius amat kok!
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon