>

Catatan 98: Ngampus Lagi!

Hari ini aku datang lagi ke kampus, bimbingan artikel plus minta tanda tangan. Hmm... lok ditanya tentang kebosanan, bosan yang ku miliki udah pangkat seratus. Ya, iya lah dari bulan kemarin temanya sama, “minta tanda tangan”. Tapi, pikir positif aja dech, itung-itung belajar untuk mengubah rasa bosan menjadi amal soleh. Emang bisa?

Aku tiba di kampus sekitar pukul 9 pagi. Ruang sekretariat prodi pendidikan matematika tampak legang, hanya ada beberapa dosen dengan kesibukannya masing-masing. Salah satunya sedang berbicara dengan seseorang via telpon, dan dari pembicaraannya tersebut ku dengar info bahwa di lantai 3 sekretariat ada kuliah umum. Maka, dengan langkah imut untuk menimba ilmu kulangkahkan kaki ke lokasi tersebut bersama salah seorang adik tingkat yang katanya mau bimbingan instrumen penelitian.

“Adek, sekarang ini ada kuliah umum. Jadi, semua dosen pasti disana. Jadi, daripada begong nunggu disini mending kita kesana saja, ikutan. Siapa tahu dapat inspirasi” Jelasku sebelum melangkahkan kaki ke lokasi.

“Emang kita bisa ikut?” Tanya sang adik tingkat.

“Ya dunk! Yuk mari!” Ujarku kemudian melangkahkan kaki menaiki tangga dengan langkah seksi ala Syahrini. Oh ya, sekarang Syahrini apa kabar ya? Lama gak up date infonya.

Tiba di lokasi yang dimaksud dan bertemu dengan beberapa orang mahasiswi yang senyam-senyum ala kucing yang lagi malu-malu untuk mendekati lokasi. Aneh bin ghaib kan, masak udah jadi mahasiswi kok malu dipelihara? Mending pelihara ayam saja, ntar kalo lebaran bisa dipotong.

Registrasi dilakukan. Dengan sangat bangga ku katakan, “Wah aku urutan yang ke 201!” Tapi tunggu bentar, bukan yang ke 201 seharunya tetapi yang ke 121. Pasti mahasiswa tipe ngangas dah tadi yang ngisi daftar sampe gak bisa ngitung kalo angka berikutnya yang harus ditulis adalah 120. Eh, kok malah nulis 200? Maka, dengan kebaikan ala Yusuf Mansur ku ubah angka yang tadinya ku tulis 201 menjadi 121 plus angka di atasnya juga ikut ku ganti dengan angka 120. So, sekarang semua tertata dengan adil, jadi angka-angka yang lain gak perlu protes lagi.

Stadium General. Sebuah spanduk terpampang di belakang meja para pembicara. So, kuliah umumnya bakalan pake bahasa Inggris, apalagi memperhatikan nama-nama narasumber yang tertera di spanduk yang berasal dari Finlandia dan Spanyol. Hmm, balik kanan adalah tindakan terlarang yang akan melukai harga diri. So, dengan tampang seorang ahli bahasa ku ajak sang adik tingkat mengambil tempat duduk.

Acara dimulai, maka salah seorang dosen membuka acara. Secara, aku sudah siap-siap pasang telinga mo denger bahasa inggris-nya sang dosen. Asumsiku, sang dosen bakalan pake bahasa Inggris selama acara pembukaannya. Dugaanku meleset meski gak sampe jatuh, dosen itu ternyata pake bahasa inggris sedikit saja, lok dipersenin ya sekita 25% lah, selebihnya pake bahasa Indonesia. Ini bentuk pemahaman terhadap audiens yang rata-rata gak faham dengan bahasa Inggris atau emang bahasa Inggrisnya segitu doang... tapi yang pertama lebih banyak benernya dech!

Lalu, narasumber pertama dari Turku University – Finland memberikan sambutannya, sama dengan yang tadi pake bahasa Indonesia juga tapi hanya selamat pagi doang. Seterusnya pake bahasa inggris. Beberapa kosa kata ku fahami dengan baik, tetapi tidak sebaik Julia Perez dalam memahami bahasa inggrisnya Gaston.

“Kak, tu orang ngomong apa sih?” Tanya sang adik tingkat tanpa pernah ku duga sebelumnya.

“Oh, dia bilang akan tinggal di Indonesia selama enam bulan”. Jawabku dengan penuh percaya diri. Entah itu benar atau enggak urusan mereka lah, yang jelas aku cuma denger six month-nya. Ckckck.

Waktu terus bergulir bersama rasa gerah yang diam-diam mulai menyerang. Aduh, panitia gimana sih, kok gak ngidupin AC, nggak liat tuh sampe-sampe pemateri buka jas saking gerahnya. Hmm... gak faham banget jadi orang. Tapi, ngomong-ngomong, kalo diperhatikan AC gak perah dimatiin kok, coz pake AC alami dari lubang-lubang udara yang ada di ruangan, bertengger mengalahkan rajawali yang lagi goyang itik.

Pembicara berikutnya mengambil peran, dari University of Sevilla – Spain. Orangnya botak full, mengalahkan Ipin dengan satu urat rambutnya. Kalo diibaratkan lantai, siapapun yang jalan pasti kepeleset deh saking licinn ya tu kepala. Hmm... biasa tanda orang pintar! Jadi, kesimpulan sementara,”kalau kamu mau pintar tinggal botakin kepala seperti beliau, jangan seperti Ipin!” Peace! Becanda bro!

Meski begitu, dengan segala kebingunganku selama mengikuti kuliah umum tersebut, ada beberapa manfaat yang bisa ku dapatkan dari event tersebut:

  • Latihan listening dan inspirasi buat belajar bahasa inggris lebih semangat lagi.
  • Bisa ngukur sejauh mana kemampuan bahasa inggris yang dimiliki (Menyedihkan banget bro!)
  • Bersedekah tepuk tangan (meski gak faham sama apa yang dibicarkan) saat para audiens ikutan tepuk tangan
  • Lirik-lirik peserta kuliah yang ternyata gak ada yang relevan buat dijadikan objek keterpesonaan.
  • Dll yang sifatnya rahasia.

So, buat panitia thanks udah ngadain acara meski tadinya sempat protes dikit, tenang ja! Itu gak serius-serius amat kok! 

Previous
Next Post »