>

Catatan 100: Kabar Burung Para Dosen Pembimbing

Aku baru tahu ternyata begitu banyak  cerita miring yang beredar tentang dosen-dosen kami, terutama mahasiswa semester akhir yang sedang ngurus skripsi. Lebih tepatnya cerita duka terkait proses bimbingan mereka. Mendengar itu aku hanya menatap terpesona ala tatapan Shah Ruk Khan yang lagi jatuh cinta, sedikit tak menyangka dengan semua cerita itu, sebab selama bimbingan hingga selesai aku tak pernah mengalami hal serupa.  Kalau aku sih, paling tantangannya cuma sulit bertemu dengan para dosen, maklum mereka orang-orang sibuk, terutama pembimbing I.

Bersama Doja dan foto Tuan Guru Bajang
Saat menunggu dosen pembimbing
di Sekretariat Kampus
“Dosen yang itu kalau bukan mahasiswa bimbingannya akan bantai mahasiswa saat ujian” Ujar salah seorang kawan saat aku hendak ujian di penguji netral.

“Masak sih?” Ujarku gak percaya. Namun, begitu hari ujian itu datang, cerita seram terkait dengan sang dosen gak muncul tuh. Malah beliau yang dimaksudkan itu malah menampilkan wajah adem ala Dude Harlino, dan profesional ala Tantowi Yahya.  Untung aku bisa nahan iri untuk gak nunjukin sikap alay para fans saat bertemu dengan para idola.

“Kalau bimbingan ke rumah dosen yang itu, jangan sendirian, ntar istrinya cemburu!” Kata seorang kawan tentang salah satu dosen pembimbingku.

“Loh, aku kalau bimbingan justru sendirian terus dan kalau ketemu istrinya ramah kok, gak ada lagu cemburu dari beliau, malah nawarin untuk minum kopi bareng sambil rujakan buah mangga yang gak henti-hentinya goyang dumang di halaman rumah beliau” Jelasku. “Makanya kalo kesana jangan make up kayak orang mau nyongkolan. Bukan cemburu sebenarnya, tetapi mungkin jijai, kok ada mahasiswi tampil norak kayak gitu?” Gumamku dalam hati.

“Siapa dosen pembimbingnya?” Tanya salah seorang kawan suatu hari. Aku menyebutkan dua nama dosen yang menjadi pembimbingku.

“Gimana proses bimbingannya sama dosen yang kedua?” Tanya kawan itu lagi.

“Baik-baik saja, beliau profesional”. Jawabku.

“Masak sih? Sama temenku justru beliau reseknya minta ampun” Jelas temanku itu.

Itu isu yang beredar terkait dengan para dosen yang ku temui justru menunjukkan sikap profesioal. Belum dengan yang lainnya. Wuih, lebih wow lagi ceritanya. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi kok bisa ya? Pasti ada yang keliru tuh dalam hubungan yang dibangun sehingga membuat kesan seperti itu. Itu cerita mereka, lok ceritaku? Lumayan seru dan tantangannya seperti yang ku katakan tadi, “sulit bertemu dengan sang dosen”

So, kalau aku sih bersyukur bahwa selama proses skripsi semuanya berjalan lancar, dan sekarang tinggal minta tanda tangan terakhir sang dosen pembimbing. Moga kamis besok bisa bertemu beliau dan dapat tanda tangannya. Hmm... tanda tangan lagi bro!

Dan untuk dosen-dosen terkait (yang berada dalam ceritaku) tenang saja, aku sudah bantu klarifikasi kok bahwa kenyataannya tidak separah yang mereka dengar. So, mari tunjukkan sikap imut dan lucu kepada para mahasiswa agar mereka merasa terhibur saat bimbingan, itung-itung bapak/ibu sedekah ke mereka, mengingat bahwa mahasiswa semester akhir lagi banyak beban pikiran, selain mikirin skripsi yang belum kelar juga mikirin biaya kuliah yang semakin melambung plus biaya jalan-jalan yang gak bisa dikalkulasikan. Apalagi Pemda gak nyediain bantuan dana penelitian untuk mahasiswa. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, gimana bisa kampus menghasilkan lulusan dengan kualitas emas (kampus secara khusus dan Lombok Timur secara umum).
Previous
Next Post »