Aku baru tahu ternyata begitu banyak cerita miring yang beredar tentang
dosen-dosen kami, terutama mahasiswa semester akhir yang sedang ngurus skripsi.
Lebih tepatnya cerita duka terkait proses bimbingan mereka. Mendengar itu aku
hanya menatap terpesona ala tatapan Shah Ruk Khan yang lagi jatuh cinta,
sedikit tak menyangka dengan semua cerita itu, sebab selama bimbingan hingga
selesai aku tak pernah mengalami hal serupa.
Kalau aku sih, paling tantangannya cuma sulit bertemu dengan para dosen,
maklum mereka orang-orang sibuk, terutama pembimbing I.
![]() |
Bersama Doja dan foto Tuan Guru Bajang Saat menunggu dosen pembimbing di Sekretariat Kampus |
“Masak sih?” Ujarku gak percaya. Namun, begitu hari ujian
itu datang, cerita seram terkait dengan sang dosen gak muncul tuh. Malah beliau
yang dimaksudkan itu malah menampilkan wajah adem ala Dude Harlino, dan
profesional ala Tantowi Yahya. Untung
aku bisa nahan iri untuk gak nunjukin sikap alay para fans saat bertemu dengan
para idola.
“Kalau bimbingan ke rumah dosen yang itu, jangan sendirian,
ntar istrinya cemburu!” Kata seorang kawan tentang salah satu dosen
pembimbingku.
“Loh, aku kalau bimbingan justru sendirian terus dan kalau
ketemu istrinya ramah kok, gak ada lagu cemburu dari beliau, malah nawarin
untuk minum kopi bareng sambil rujakan buah mangga yang gak henti-hentinya
goyang dumang di halaman rumah beliau” Jelasku. “Makanya kalo kesana jangan
make up kayak orang mau nyongkolan. Bukan cemburu sebenarnya, tetapi mungkin
jijai, kok ada mahasiswi tampil norak kayak gitu?” Gumamku dalam hati.
“Siapa dosen pembimbingnya?” Tanya salah seorang kawan suatu
hari. Aku menyebutkan dua nama dosen yang menjadi pembimbingku.
“Gimana proses bimbingannya sama dosen yang kedua?” Tanya
kawan itu lagi.
“Baik-baik saja, beliau profesional”. Jawabku.
“Masak sih? Sama temenku justru beliau reseknya minta ampun”
Jelas temanku itu.
Itu isu yang beredar terkait dengan para dosen yang ku temui
justru menunjukkan sikap profesioal. Belum dengan yang lainnya. Wuih, lebih wow
lagi ceritanya. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi kok bisa ya? Pasti ada yang
keliru tuh dalam hubungan yang dibangun sehingga membuat kesan seperti itu. Itu
cerita mereka, lok ceritaku? Lumayan seru dan tantangannya seperti yang ku
katakan tadi, “sulit bertemu dengan sang dosen”
So, kalau aku sih bersyukur bahwa selama proses skripsi
semuanya berjalan lancar, dan sekarang tinggal minta tanda tangan terakhir sang
dosen pembimbing. Moga kamis besok bisa bertemu beliau dan dapat tanda
tangannya. Hmm... tanda tangan lagi bro!
Dan untuk dosen-dosen terkait (yang berada dalam ceritaku)
tenang saja, aku sudah bantu klarifikasi kok bahwa kenyataannya tidak separah
yang mereka dengar. So, mari tunjukkan sikap imut dan lucu kepada para
mahasiswa agar mereka merasa terhibur saat bimbingan, itung-itung bapak/ibu
sedekah ke mereka, mengingat bahwa mahasiswa semester akhir lagi banyak beban
pikiran, selain mikirin skripsi yang belum kelar juga mikirin biaya kuliah yang
semakin melambung plus biaya jalan-jalan yang gak bisa dikalkulasikan. Apalagi
Pemda gak nyediain bantuan dana penelitian untuk mahasiswa. Jika kondisi
tersebut terus dibiarkan, gimana bisa kampus menghasilkan lulusan dengan
kualitas emas (kampus secara khusus dan Lombok Timur secara umum).
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon