>

Catatan 122: Mengapa Aku Harus Bertanya Kepadanya?

Seseorang memerlukan orang lain untuk mengetahui bahwa dirinya berada pada posisi yang benar atau salah, meski dalam dirinya telah ada kesadaran tersebut. Sebab, kebenaran tidak ada yang bersifat mutlak, kecuali keberanan yang berasal dari Tuhan. Maka, sudut pandang secara holistik dibutuhkan agar bisa menyesuaikan diri dengan kebenaran sejati seperti yang diperintahkan Tuhan!

Hari ini aku bertanya kepada seseorang untuk mengetahui noda yang mungkin menempel pada setiap kalimat yang ku tuliskan. Sebab, aku termasuk seorang peragu yang senantiasa khawatir dengan setiap kata yang ku tulis dan ku ucapkan. Jangan-jangan kata tersebut akan menyinggung perasaan orang lain bahkan melukai hatinya. Maka, aku bertanya pada salah seorang yang ku percaya bisa memberikan jawaban atau tanggapan bijak terhadap apa yang ku tanyakan. 

Aku menunggu dan terus menunggu. Waktu terus saja berganti dan tak mau berhenti. Dan untung saja waktu terus berjalan, dan aku masih berada pada arus itu. Jika tidak, maka selamanya pertanyaanku akan menggantung, syukur-syukur jika memiliki kesempatan mendapatkan jawaban seperti yang didapatkan oleh Reihan dalam novel yang ditulis oleh Tere Liye, "Rembulan Tenggelam di Wajahmu".

Sekarang waktu menunggu itu telah bergabung membentuk angka 7. Tujuh jam sudah aku menunggu, namun respon yang ku harapkan tak kunjung datang. Sementara itu, kata-kata yang ku tanyakan tersebut akan ku gunakan besok pagi, ku berikan kepada generasi muda untuk didengarkan dan dikunyah oleh akal mereka.


Namun, aku lupa pada satu hal. Dia orang sibuk yang mungkin tak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ku ajukan terkait kata-kata itu. Aku terlalu bersemangat dengan pertanyaan itu, semangat yang dilandasi oleh kepercayaan penuh terhadapnya. Dan sekarang, disini aku merasa malu sendiri dalam detik-detik penantianku, penantian akan jawaban itu! Di tambah dengan rasa penyesalan, "mengapa aku harus bertanya kepadanya?"
Previous
Next Post »