Kau sekarang menjadi sarjana pendidikan. Maka,
jika melihat titel yang terpampang pada kertas keramat yang kau perjuangkan
selama lebih kurang empat tahun, sudah seharusnya kau memasuki sekolah untuk
mengajarkan ilmu-ilmu yang kau pelajari kepada anak didikmu. Apalagi kau
mengatakan kepadaku bahwa ada sebuah lembaga pendidikan memintamu untuk
bergabung bersama mereka, dan anehnya kau tolak. Mengapa bisa begitu kawan?
“Bagaimana mungkin aku memasuki lembaga
pendidikan yang melukai harga diriku?” Kau mulai memberi penjelasan dan aku
dengan tenang menyimak setiap kata yang keluar dari mulutmu, tak berani menyela
sampai kau benar-benar selesai dengan semua kata-katamu. “Ibarat makanan, apakah
kau akan tetap menerima makanan yang disajikan dengan cara yang tidak sopan
meski saat itu kau sedang lapar? Jika kau menerimanya dan memakannya tentu kau
tak punya harga diri, kau tak punya kehormatan. Lapar sih lapar, tetap bukan
berarti kau boleh merendahkan diri”. Aku
semakin bingung dengan kata-katamu. Bagaimana mungkin kau hubung-hubungkan
makanan dengan lembaga pendidikan? Tetapi, sepertinya kau belum berhenti
berkata, maka ku siapkan telinga untuk mendengarkan kata-kata selanjutnya yang
akan engkau muntahkan, dan ku tahan semua pertanyaan yang hendak ku sampaikan
kepadamu.
“Menjadi guru bukan hanya masalah kau memiliki
pekerjaan atau tidak, itu masalah tanggung jawab. Bagiku, guru tidak hanya
bertugas mengajar, tetapi mendidik. Apalagi mengingat zaman sekarang ini, akses
terhadap ilmu pengetahuan sangat luar biasa. Kau buka saja google, dan semua
yang ingin kau ketahui ada di sana. Sekali lagi tugas guru adalah mendidik,
membangun karakter-karakter yang seharusnya dimiliki oleh generasi muda, hingga
harga diri bangsa bisa tetap dijaga sampai kapanpun. Dan persoalannya,
dimanakah lembaga pendidikan yang seperti itu?” Katamu menjelaskan. Kulihat kau
terdiam, menatap langit yang tampak mendung, seakan-akan faham dengan hatimu
melebihi kefahaman yang ku miliki untukmu.
“Jika memang demikian yang kau yakini, mengapa
kau tak ambil bagian dan ikut berbuat di dalam lembaga pendidikan itu?” Tanyaku
akhirnya setelah melihat dalam waktu cukup lama kau tak mengeluarkan suara.
“Itu dia. Aku terlalu takut dengan apa yang
akan terjadi. Kau boleh mengatakan aku seorang pecundang. Silakan saja, dan
mungkin benar begitu. Tetapi, bagiku lembaga pendidikan itu seperti hutan yang
sedang terbakar, dan aku hanyalah burung kecil yang menjadi saksi dari
kebakaran yang terjadi. Sementara para manusia yang seharusnya berbuat sesuatu
untuk memadamkan api malah menikmati kobaran api itu seperti pesta kembang api.
Yang yang lebih ku khawatirkan lagi adalah ketika aku memaksa diri untuk masuk
ke hutan tersebut malah akan membuatku terbakar dan mati, sementara visi
perjuangan yang ku miliki lenyap terpanggang api. Aku takut itu terjadi. Maka
untuk saat ini aku lebih memilih untuk diam, dan menunggu kobaran api meredup hingga
padam serta hingga Tuhan memberikan keputusan” Jelasmu sambil menunduk.
Dan sekarang aku mulai faham, sebab jika berada
di posisi yang sama mungkin aku akan mengambil langkah yang tidak jauh berbeda.
Rasanya berrsyukur dan bangga telah mengenalmu kawan!
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon