>

Catatan 111: Burung Keci di Tengah Hutan yang Terbakar

Kau sekarang menjadi sarjana pendidikan. Maka, jika melihat titel yang terpampang pada kertas keramat yang kau perjuangkan selama lebih kurang empat tahun, sudah seharusnya kau memasuki sekolah untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang kau pelajari kepada anak didikmu. Apalagi kau mengatakan kepadaku bahwa ada sebuah lembaga pendidikan memintamu untuk bergabung bersama mereka, dan anehnya kau tolak. Mengapa bisa begitu kawan?

“Bagaimana mungkin aku memasuki lembaga pendidikan yang melukai harga diriku?” Kau mulai memberi penjelasan dan aku dengan tenang menyimak setiap kata yang keluar dari mulutmu, tak berani menyela sampai kau benar-benar selesai dengan semua kata-katamu. “Ibarat makanan, apakah kau akan tetap menerima makanan yang disajikan dengan cara yang tidak sopan meski saat itu kau sedang lapar? Jika kau menerimanya dan memakannya tentu kau tak punya harga diri, kau tak punya kehormatan. Lapar sih lapar, tetap bukan berarti kau boleh  merendahkan diri”. Aku semakin bingung dengan kata-katamu. Bagaimana mungkin kau hubung-hubungkan makanan dengan lembaga pendidikan? Tetapi, sepertinya kau belum berhenti berkata, maka ku siapkan telinga untuk mendengarkan kata-kata selanjutnya yang akan engkau muntahkan, dan ku tahan semua pertanyaan yang hendak ku sampaikan kepadamu.

“Menjadi guru bukan hanya masalah kau memiliki pekerjaan atau tidak, itu masalah tanggung jawab. Bagiku, guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi mendidik. Apalagi mengingat zaman sekarang ini, akses terhadap ilmu pengetahuan sangat luar biasa. Kau buka saja google, dan semua yang ingin kau ketahui ada di sana. Sekali lagi tugas guru adalah mendidik, membangun karakter-karakter yang seharusnya dimiliki oleh generasi muda, hingga harga diri bangsa bisa tetap dijaga sampai kapanpun. Dan persoalannya, dimanakah lembaga pendidikan yang seperti itu?” Katamu menjelaskan. Kulihat kau terdiam, menatap langit yang tampak mendung, seakan-akan faham dengan hatimu melebihi kefahaman yang ku miliki untukmu.

“Jika memang demikian yang kau yakini, mengapa kau tak ambil bagian dan ikut berbuat di dalam lembaga pendidikan itu?” Tanyaku akhirnya setelah melihat dalam waktu cukup lama kau tak mengeluarkan suara.

“Itu dia. Aku terlalu takut dengan apa yang akan terjadi. Kau boleh mengatakan aku seorang pecundang. Silakan saja, dan mungkin benar begitu. Tetapi, bagiku lembaga pendidikan itu seperti hutan yang sedang terbakar, dan aku hanyalah burung kecil yang menjadi saksi dari kebakaran yang terjadi. Sementara para manusia yang seharusnya berbuat sesuatu untuk memadamkan api malah menikmati kobaran api itu seperti pesta kembang api. Yang yang lebih ku khawatirkan lagi adalah ketika aku memaksa diri untuk masuk ke hutan tersebut malah akan membuatku terbakar dan mati, sementara visi perjuangan yang ku miliki lenyap terpanggang api. Aku takut itu terjadi. Maka untuk saat ini aku lebih memilih untuk diam, dan menunggu kobaran api meredup hingga padam serta hingga Tuhan memberikan keputusan” Jelasmu sambil menunduk.

Dan sekarang aku mulai faham, sebab jika berada di posisi yang sama mungkin aku akan mengambil langkah yang tidak jauh berbeda. Rasanya berrsyukur dan bangga telah mengenalmu kawan! 
Previous
Next Post »