>

Catatan 109: Diamlah Sejenak

Tak cukupkah pengalaman sebelumnya mengajarkanmu tentang makna, tentang akibat dari tindakan tergesa-gesa yang kau lakukan yang membuatmu akhirnya berada pada titik penyesalan?

Tentu saja setiap manusia mengalami resah dan kebingungan atas beberapa kondisi yang dihandapi. Namun, bukan menjadi alasan untuk mengeluhkan semua rasa itu. Diamlah sejenak, bebaskan pikiranmu dari segala berhala yang kau takutkan yang sebenarnya tak mampu berbuat apapun kepadamu.  Ya, kaulah yang sebenarnya menganiaya diri, berhala-berhala itu hanyalah benda mati yang tanda sadar lebih kau takuti dari pada Tuhan.

Kau bilang bahwa kau bertemu dengan orang-orang gila. Dari mana kau tahu bahwa mereka gila? Atau jangan-jangan kaulah yang gila, namun menyangka diri waras.

Baiklah akan coba ku renungkan penjelasan darimu. Pertama, kau mengatakan telah bertemu dengan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka mencintai Rasulullah SAW tetapi justru memiliki pola hidup yang sangat berbeda dengan beliau (baca: Rasulullah). Lalu bagaimana dengan hidupmu sendiri? Pernahkah kau memperhatikan dan mengevaluasi diri sejauh mana keteladanan yang diberikan oleh Rasulullah kau ikuti? Atau jangan-jangan kau hanya meneladani janggut beliau saja tetapi  tidak yang lainnya, meneladai tindakan poligami yang beliau lakukan tanpa kau analisis siapa perempuan-perempuan yang beliau jadikan istri, dan jangan-jangan kau pun termasuk orang-orang yang suka memotong-motong ayat suci, hanya mengambil yang mendukung kepentinganmu padahal itu masih dalam tanda koma.

Kedua, kau bilang bertemu dengan mereka yang menjadikan peran guru sebagai profesi tanpa tanggung jawab. Lebih sibuk ngurus gaji dan tunjangan daripada mengurus moral siswa. Bahkan tak jarang mereka (baca: guru) yang karena tuntutan sistem tanpa sadar merusak moral yang dimiliki siswa. Terkait dengan ini kau bercerita kepadaku bahwa salah seorang sepupumu yang sekarang duduk di bangku SMA membuang kejujuran dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya setelah kecewa dengan sikap yang ditampilkan sang guru. Lalu bagaimana dengan dirimu? Bukankah sekarang kau telah menjadi guru. Apakah kau mau tetap mendidik para siswamu tanpa di gaji?


Maka, sebelum kau bilang bahwa orang-orang yang kau temui adalah orang-orang gila, diamlah sejenak untuk berfikir tentang semuanya. Karena bisa jadi kaulah sebenarnya yang gila sehingga membuatmu terasing dengan pikiranmu sendiri.
Previous
Next Post »