Urusan Tanda Tangan dengan Dosen Pembimbing Selesai
Seperti
yang ku rencanakan bahwa hari kamis aku bakalan nyambangin rumah dosenku,
biasa... urusan tanda tangan. Jadi, untuk bisa jilid skripsiku, tanda tangan
yang diperlukan tinggal dua orang, salah satunya adalah dosen pembimbingku yang
ditemuin saja sulutnya minta ampiyun...!
Pagi,
sekitar jam 9 aku tiba di depan rumahnya. Pintu gerbang terbuka, sepeda motor
berjejeran. “Wuih, kayaknya bisa ketemu deh pagi ini”, gumamku dalam hati mengingat
kenangan-kenangan unik saat bimbingan dulu yang kalau rumahnya rame beliau
pasti ada disana. Tetapi, begitu aku mendekat, eh ternyata keramaian itu
terjadi karena para tukang yang sedang bekerja untuk merenovasi rumahnya.
Ternyata itu sebabnya sang pohon mangga di pangkas minggu lalu, padahal sayang
banget sebenarnya... apalagi nginget buahnya yang besar-besar yang sering
bergelantungan seperti monyet lagi kekenyangan (maklumi saja, ini komentar orang
yang gak punya pohon mangga... hehe).
“Mungkin
nanti sore” Gumamku dalam hati.
Sore
pun tiba dengan langkah seksi ala Syahrini. Memberikan senyum dan harapan untuk
bisa bertemu sang dosen. Kondisinya sama seperti tadi pagi, rame. Yang
membedakan adalah disana ada istri beliau dengan senyum khas ala Asma Nadia,
mengusir gosip miring mahasiswa tentang beliau.
“Assalamu’alaikum”,
ucapku seramah mungkin meniru gaya host acara infotainment.
“Wa’alaikumussalam”,
jawab beliau dengan keramahan yang lebih tinggi, kira-kira beda dua anak tangga
denganku.
“Bapak
ada Bu?”
“Bapak
masih di Mataram”
“Oh,
kapan beliau pulang?”
“Nanti
malam”
“Kalau
begitu saya pamit bu, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikummussalam”
***
Pagi
pun datang dengan senyum cerahnya. Harapan dan doa terucap sejak semalam,
semoga pagi ini bisa dapetkan tanda tangan sang dosen. Kalau boleh berkata
jujur, sebenarnya aku sudah merasa jenuh ngurus tanda tangan, itu memulu yang
diurus. Tapi, kali ini kejujuran gak boleh dikatakan. So, lanjut saja. Toh ini
merupakan terakhir kalinya. Jika sebelumnya aku gak pernah ngeluh, masak
sekarang mo ngeluh! Bisa-bisa ngerusak keimutan yang ku miliki, mending joget
india akal Syahrini saja.
Keramaian
di halaman rumah sang dosen tampak seperti kemarin. Aku bertanya kepada salah
seorang tukang yang ada disana terkait dengan keberadaan sang dosen. Dan sang
tukang memberikan informasi bahwa beliau ada di dalam.
Seperti
biasa, aku langsung menuju ke berugak yang ada di halaman beliau. Berugak yang
menjadi saksi semua sejarah yang ku torehkan di tempat itu. Alhamdulillah, sang
berugak tak mengalami nasib yang sama dengan sang pohon mangga. Aku pun menunggu
disana, menunggu sang dosen keluar dari rumahnya. Tak lama, anak lelaki sang
dosen melihatku dan kurasa ia faham dan langsung menghampiri.
“Ada
keperluan apa mbak?” Tanyanya.
“Mau
minta tanda tangan Bapak”. Jawabku yang serta merta aku menyerahkan dokumen
yang harus ditanda tangani sang dosen kepada sang anak.
***
Alhamdulillah,
hari ini urusan tanda tangan dengan dosen pembimbing sudah selesai. Meski hanya
bertemu dengan tanda tangannya, aku bersyukur. Paling tidak aku menyadari satu
hal bahwa dosenku adalah manusia super sibuk yang untuk bertemu saja sulitnya
minta ampun. Maka, sebagai bentuk sedekah ku kepada kawan-kawanku yang menjadi
adik tingkatku, dalam proses penelitiannya semoga mendapatkan dosen yang gak
terlalu sibuk dan selalu siap memberikan bimbingan kapanpun selama dibutuhkan.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon