>

Catatan 102: Urusan Tanda Tangan dengan Dosen Pembimbing Selesai

Urusan Tanda Tangan dengan Dosen Pembimbing Selesai


Seperti yang ku rencanakan bahwa hari kamis aku bakalan nyambangin rumah dosenku, biasa... urusan tanda tangan. Jadi, untuk bisa jilid skripsiku, tanda tangan yang diperlukan tinggal dua orang, salah satunya adalah dosen pembimbingku yang ditemuin saja sulutnya minta ampiyun...!

Pagi, sekitar jam 9 aku tiba di depan rumahnya. Pintu gerbang terbuka, sepeda motor berjejeran. “Wuih, kayaknya bisa ketemu deh pagi ini”, gumamku dalam hati mengingat kenangan-kenangan unik saat bimbingan dulu yang kalau rumahnya rame beliau pasti ada disana. Tetapi, begitu aku mendekat, eh ternyata keramaian itu terjadi karena para tukang yang sedang bekerja untuk merenovasi rumahnya. Ternyata itu sebabnya sang pohon mangga di pangkas minggu lalu, padahal sayang banget sebenarnya... apalagi nginget buahnya yang besar-besar yang sering bergelantungan seperti monyet lagi kekenyangan (maklumi saja, ini komentar orang yang gak punya pohon mangga... hehe).

“Mungkin nanti sore” Gumamku dalam hati.

Sore pun tiba dengan langkah seksi ala Syahrini. Memberikan senyum dan harapan untuk bisa bertemu sang dosen. Kondisinya sama seperti tadi pagi, rame. Yang membedakan adalah disana ada istri beliau dengan senyum khas ala Asma Nadia, mengusir gosip miring mahasiswa tentang beliau.

“Assalamu’alaikum”, ucapku seramah mungkin meniru gaya host acara infotainment.

“Wa’alaikumussalam”, jawab beliau dengan keramahan yang lebih tinggi, kira-kira beda dua anak tangga denganku.

“Bapak ada Bu?”

“Bapak masih di Mataram”

“Oh, kapan beliau pulang?”

“Nanti malam”

“Kalau begitu saya pamit bu, assalamu’alaikum”

“Wa’alaikummussalam”

***

Pagi pun datang dengan senyum cerahnya. Harapan dan doa terucap sejak semalam, semoga pagi ini bisa dapetkan tanda tangan sang dosen. Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya aku sudah merasa jenuh ngurus tanda tangan, itu memulu yang diurus. Tapi, kali ini kejujuran gak boleh dikatakan. So, lanjut saja. Toh ini merupakan terakhir kalinya. Jika sebelumnya aku gak pernah ngeluh, masak sekarang mo ngeluh! Bisa-bisa ngerusak keimutan yang ku miliki, mending joget india akal Syahrini saja.

Keramaian di halaman rumah sang dosen tampak seperti kemarin. Aku bertanya kepada salah seorang tukang yang ada disana terkait dengan keberadaan sang dosen. Dan sang tukang memberikan informasi bahwa beliau ada di dalam.

Seperti biasa, aku langsung menuju ke berugak yang ada di halaman beliau. Berugak yang menjadi saksi semua sejarah yang ku torehkan di tempat itu. Alhamdulillah, sang berugak tak mengalami nasib yang sama dengan sang pohon mangga. Aku pun menunggu disana, menunggu sang dosen keluar dari rumahnya. Tak lama, anak lelaki sang dosen melihatku dan kurasa ia faham dan langsung menghampiri.

“Ada keperluan apa mbak?” Tanyanya.

“Mau minta tanda tangan Bapak”. Jawabku yang serta merta aku menyerahkan dokumen yang harus ditanda tangani sang dosen kepada sang anak.

***

Alhamdulillah, hari ini urusan tanda tangan dengan dosen pembimbing sudah selesai. Meski hanya bertemu dengan tanda tangannya, aku bersyukur. Paling tidak aku menyadari satu hal bahwa dosenku adalah manusia super sibuk yang untuk bertemu saja sulitnya minta ampun. Maka, sebagai bentuk sedekah ku kepada kawan-kawanku yang menjadi adik tingkatku, dalam proses penelitiannya semoga mendapatkan dosen yang gak terlalu sibuk dan selalu siap memberikan bimbingan kapanpun selama dibutuhkan.


Previous
Next Post »