“Sepertinya aku
harus segera menggali tanah di bawah rumah kami, membuat sebuah ruang bawah
tanah yang tak seorang pun bisa memasukinya kecuali dengan kode yang ku
berikan. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, selain membutuhkan dana yang tak
sedikit, izin orang tua harus di dapatkan. Dan inilah yang lebih sulit, memberi
penjelasan bagaimana pentingnya perkembangan ilmu pengetahuan di tengah pembodohan
tersistem saat ini.
Belajar dan berfikir
butuh ketenangan. Seorang ilmuwan bisa menghasilkan karya besar tergantung dari
sarana prasarana pendukungnya. Ia tak cukup hanya memiliki ketertarikan dan
semangat, sebab jika lingkungan yang mendukung tersebut tak didapatkan, 90% kemungknan
semangatnya itu akan pudar, dan karya besar yang hendak dihasilkan hanya akan
tetap berada di awang-awang, berseliweran membentuk imagi, menangis karena tak
sempat ditulis”.
Lalu aku mulai
menarik garis linear terhadap lingkungan pendidikan hari ini. Bagaimana situasi
dan kondisinya, dan kesimpulan sementaraku mengatakan “tempat itu seperti pasar
atau taman hiburan” yang digunakan oleh para subjek untuk beragam kepentingan,
mendapatkan kapital, mengisi waktu luang, bahkan hanya mampir dengan
keterpaksaan. Tentu saja tidak semua lingkungan pendidikan mengalami hal
seperti yang ku sebutkan, selalu ada pegecualian seperti halnya dengan teori
matematika yang menurut orang besifat mutlak. Sekali lagi, selalu ada
pengecualian.
Jika Raya berfikir bagaimana membuat ruang bawah tanah untuk diri dan pemikirannya, maka aku berfikir untuk membuat ruang pemikiran tersebut di atas tanah, berbaur bersama sistem yang ada bersama kawan-kawan. Sulit memang dan butuh perjuangan, baik waktu, biaya dan tenaga. Namun, sebagaimana yang ditulis Ahmad Fuadi dalam novel Negeri 5 Menara, "Man jadda wa jada". Sebuah pribahasa Arab yang sudah ku dengar ketika duduk di bangku kelas 3 SD.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon