>

Catatan 139: Ruang Pemikiran

Raya mulai mengemukakan wacananya:
“Sepertinya aku harus segera menggali tanah di bawah rumah kami, membuat sebuah ruang bawah tanah yang tak seorang pun bisa memasukinya kecuali dengan kode yang ku berikan. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, selain membutuhkan dana yang tak sedikit, izin orang tua harus di dapatkan. Dan inilah yang lebih sulit, memberi penjelasan bagaimana pentingnya perkembangan ilmu pengetahuan di tengah pembodohan tersistem saat ini.

Belajar dan berfikir butuh ketenangan. Seorang ilmuwan bisa menghasilkan karya besar tergantung dari sarana prasarana pendukungnya. Ia tak cukup hanya memiliki ketertarikan dan semangat, sebab jika lingkungan yang mendukung tersebut tak didapatkan, 90% kemungknan semangatnya itu akan pudar, dan karya besar yang hendak dihasilkan hanya akan tetap berada di awang-awang, berseliweran membentuk imagi, menangis karena tak sempat ditulis”.

Lalu aku mulai menarik garis linear terhadap lingkungan pendidikan hari ini. Bagaimana situasi dan kondisinya, dan kesimpulan sementaraku mengatakan “tempat itu seperti pasar atau taman hiburan” yang digunakan oleh para subjek untuk beragam kepentingan, mendapatkan kapital, mengisi waktu luang, bahkan hanya mampir dengan keterpaksaan. Tentu saja tidak semua lingkungan pendidikan mengalami hal seperti yang ku sebutkan, selalu ada pegecualian seperti halnya dengan teori matematika yang menurut orang besifat mutlak. Sekali lagi, selalu ada pengecualian. 

Jika Raya berfikir bagaimana membuat ruang bawah tanah untuk diri dan pemikirannya, maka aku berfikir untuk membuat ruang pemikiran tersebut di atas tanah, berbaur bersama sistem yang ada bersama kawan-kawan. Sulit memang dan butuh perjuangan, baik waktu, biaya dan tenaga. Namun, sebagaimana yang ditulis Ahmad Fuadi dalam novel Negeri 5 Menara, "Man jadda wa jada". Sebuah pribahasa Arab yang sudah ku dengar ketika duduk di bangku kelas 3 SD.

Previous
Next Post »