>

Catatan 138: Raya

“Sepertinya sel-sel saraf di otakku telah berubah menjadi filamen-filamen tembaga, penghantar arus listrik pada robotik. Akhirnya aku bingung sendiri, mengapa aku berbeda dari yang lainnya? Apakah perbedaan ini anugerah atau sebuah azab dari Tuhan?” Begitu kata temanku suatu hari.

Dalam setiap tulisan yang ku buat di blog ini, penyamaran identitas atas seseorang yang ku ceritakan tentu saja harus dilakukan. Kau boleh membaca cerita-cerita tersebut tanpa harus tahu siapa pemilik cerita. Untuk apa juga kau tahu? Sebab, tujuan ku menulis bukan untuk mengungkap kebenaran suatu hal tetapi untuk memberi kabar bahwa sesuatu pernah terjadi, dan sebuah harapan akan hadirnya inspirasi yang menghuni relung hati, sehingga perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik bisa kita lakukan, mulai dari diri sendiri.

Seperti hari ini, aku ingin berbagi cerita tentang seorang perempuan yang merasa berbeda dari orang lain, ia terasing di lingkungannya hingga akhirnya memilih perpustakaan dan laboratorium sebagai tempat bersembunyi dari hiruk pikuk dunia materialisme dan kapitalisme yang dirangkai dalam sebuah sistem untuk menolak keberadaan Tuhan.

Ku perkenalkan ia sebagai Raya. Salah satu nama favoritku. Bukan karena aku menyukai nama itu, melainkan karena nama itu pernah digunakan dalam sebuah film yang disutradarai oleh seseorang yang ku kagumi, bukan karena fisiknya melainkan karena pemikirannya. Lagi pula sejak kapan aku kagum dengan fisik seseorang? Mungkin kiamat akan lebih dahulu terjadi dari pada hal tersebut.

Raya, ku ketahui terlahir di salah satu desa di pulau kami, Lombok. Sejak kecil ia terkenal sebagai gadis pendiam dan pemalu. Hingga suatu hari ia jatuh cinta pada seorang lelaki. Rehan, sebut saja dengan nama itu.

Raya mengenal Rehan di Jogjakarta, kota tempatnya mendapat status mahasiswa. Saat pertama kali bertemu, ia merasa tak asing dengan Rehan. Mengapa bisa begitu? Ia mencoba membuka dokumen sejarah, mengobrak abrik file untuk mencari dokumen-dokumen terkait dengan Rehan, nihil. Tak ada satu pun catatan sejarah tentang Rehan. “Mengapa dia terasa tak asing bagiku?” Guman Raya. “Apakah di kehidupan sebelumnya kami pernah bertemu?” Imbuhnya dalam hati.

Sebagaimana layaknya film-film, Raya dan Rehan pun akhirnya berjalan berdampingan dalam sebuah status yang bernama pacaran. Namun, dalam proses itu, Raya terus berfikir tentang Rehan dan dirinya, “Mengapa akalku selalu menolak Rehan? Sementara hatiku selalu ingin bersamanya? Mana yang harus ku ikuti?”

Sebagai sahabat dari Raya, yang bisa ku lakukan hanyalah menjadi pendengar setia. Ini adalah urusan hati, aku tak bisa berkomentar apapun.

“Apa kau mencintai Rehan?” Tanyaku pada Raya.

“Ya, sangat!” Jawabnya

“Mengapa?”

“Aku tak tahu!”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Dan lagi-lagi aku tak tahu!”

“Baiklah, kita geser pertanyaannya. Apa yang kau sukai dari Rehan?”

“Aku menyukai matanya dan senyumannya. Hanya itu, selainnya aku membencinya. Mulai dari kata-katanya yang sering terdengar kasar olehku, sikap masa bodo nya, dan yang paling penting dia tidak bukan tipe orang yang ku harapkan menjadi imamku. Inilah alasan utama mengapa akalku selalu menolaknya. Apalagi mengingat apa yang ku geluti selama ini dan apa yang ingin ku tuju, tak mungkin aku membangun kehidupan bersamanya. Namun, dalam semua keadaan itu, hatiku tak bisa lepas darinya”

“Masalah yang rumit”. Gumamku dalam hati.

“Dan ketika keadaan membuatku terpisah dengan Rehan, ku anggap itu sebagai bagian hal paling buruk bagiku, sekaligus sebagai anugerah terindah”. Imbuh Raya yang membuatku bingung.

“Maksud Raya gimana?” Tanyaku.

“Rehan, orang yang selalu ku percaya di tengah lautan prasangka kawan-kawanku ternyata ku pikir-pikir tak pernah mencintaiku. Perasaan yang ku alami selama bersamanya hanyalah sebuah fatamorgana. Bahkan, ku dengar kabar bahwa ia sengaja mendekatiku untuk memanfaatkanu demi sebuah kepentingan. Namun, entahlah dari semua itu tetap saja aku mencintainya, menganggap semua kabar itu sebagai sebuah warna yang memiliki multitafsir yang dipengaruhi oleh sudut pandang yang digunakan oleh penafsirnya. Perasaanku tak pernah bisa berubah, bahkan hingga hari ini. Aku tetap mencintainya, meski aku tak menginginkan untuk hidup bersamanya. Ya, aku tak sedikitpun ingin hidup bersamanya. Tak bisa aku dipimpin oleh seorang Rehan. Sebab, hidup bukan hanya berbicara tentang harta dan keturunan. Tetapi hidup adalah sebuah perjuangan. Ada orang lain yang harus diperhatikan, ada nilai-nilai yang harus dilestarikan. Dan ada cinta yang harus disemaikan, tidak hanya kepada orang sekitar tetapi kepada semua makhluk tuhan. Dan ku perhatikan bahwa Rehan tak memiliki pandanan seperti itu, hidup baginya sangat sederhana. Terlalu sederhana untuk ku fikirkan” Jelas Raya

“Dan sekarang, 5 tahun sudah aku terpisah darinya. Entah mengapa cinta itu masih ada, begitu pula penolakan akal terhadapnya”

“Mengapa kau tak coba membangun cinta yang baru bersama orang lain?” Tanyaku di detik perhentian suaranya, lebih tepatnya saran.

“Sebenarnya aku pun mengharapkan hal yang sama. Tetapi hingga hari ini, aku tak bisa melakukannya. Meski begitu, di tengah kondisi ini aku memiliki sebuah harapan untuk bisa hidup bersama seseorang, yang ingin ku dampingi atas nama perjuangan menegakkan keadilan. Orang yang dulu  ditolak hatiku tetapi diterima oleh akalku saat aku masih bersama Rehan” Jelas Raya.

“Stop Raya! Kau ini manusia, siluman atau robot? Mengapa hati dan pikiranmu bisa begitu. Jika aku berada dalam posisi Rehan, mungkin kau sudah ku bunuh. Syukur saja sekarang Rehan tak bersamamu! Hahaha...” Ucapku langsung beranjak meninggalkan Raya.

“Hey, kau ini sahabat macam apaaaa?” Teiak Raya sembari berlari mengejarku.
Previous
Next Post »