Dalam setiap tulisan
yang ku buat di blog ini, penyamaran identitas atas seseorang yang ku ceritakan
tentu saja harus dilakukan. Kau boleh membaca cerita-cerita tersebut tanpa
harus tahu siapa pemilik cerita. Untuk apa juga kau tahu? Sebab, tujuan ku
menulis bukan untuk mengungkap kebenaran suatu hal tetapi untuk memberi kabar
bahwa sesuatu pernah terjadi, dan sebuah harapan akan hadirnya inspirasi yang
menghuni relung hati, sehingga perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik bisa
kita lakukan, mulai dari diri sendiri.
Seperti hari ini,
aku ingin berbagi cerita tentang seorang perempuan yang merasa berbeda dari
orang lain, ia terasing di lingkungannya hingga akhirnya memilih perpustakaan
dan laboratorium sebagai tempat bersembunyi dari hiruk pikuk dunia materialisme
dan kapitalisme yang dirangkai dalam sebuah sistem untuk menolak keberadaan
Tuhan.
Ku perkenalkan ia
sebagai Raya. Salah satu nama favoritku. Bukan karena aku menyukai nama itu,
melainkan karena nama itu pernah digunakan dalam sebuah film yang disutradarai
oleh seseorang yang ku kagumi, bukan karena fisiknya melainkan karena
pemikirannya. Lagi pula sejak kapan aku kagum dengan fisik seseorang? Mungkin
kiamat akan lebih dahulu terjadi dari pada hal tersebut.
Raya, ku ketahui
terlahir di salah satu desa di pulau kami, Lombok. Sejak kecil ia terkenal
sebagai gadis pendiam dan pemalu. Hingga suatu hari ia jatuh cinta pada seorang
lelaki. Rehan, sebut saja dengan nama itu.
Raya mengenal Rehan
di Jogjakarta, kota tempatnya mendapat status mahasiswa. Saat pertama kali
bertemu, ia merasa tak asing dengan Rehan. Mengapa bisa begitu? Ia mencoba
membuka dokumen sejarah, mengobrak abrik file untuk mencari dokumen-dokumen
terkait dengan Rehan, nihil. Tak ada satu pun catatan sejarah tentang Rehan. “Mengapa
dia terasa tak asing bagiku?” Guman Raya. “Apakah di kehidupan sebelumnya kami
pernah bertemu?” Imbuhnya dalam hati.
Sebagaimana layaknya
film-film, Raya dan Rehan pun akhirnya berjalan berdampingan dalam sebuah
status yang bernama pacaran. Namun, dalam proses itu, Raya terus berfikir
tentang Rehan dan dirinya, “Mengapa akalku selalu menolak Rehan? Sementara
hatiku selalu ingin bersamanya? Mana yang harus ku ikuti?”
Sebagai sahabat dari
Raya, yang bisa ku lakukan hanyalah menjadi pendengar setia. Ini adalah urusan
hati, aku tak bisa berkomentar apapun.
“Apa kau mencintai
Rehan?” Tanyaku pada Raya.
“Ya, sangat!”
Jawabnya
“Mengapa?”
“Aku tak tahu!”
“Bagaimana bisa
begitu?”
“Dan lagi-lagi aku
tak tahu!”
“Baiklah, kita geser
pertanyaannya. Apa yang kau sukai dari Rehan?”
“Aku menyukai
matanya dan senyumannya. Hanya itu, selainnya aku membencinya. Mulai dari
kata-katanya yang sering terdengar kasar olehku, sikap masa bodo nya, dan yang
paling penting dia tidak bukan tipe orang yang ku harapkan menjadi imamku.
Inilah alasan utama mengapa akalku selalu menolaknya. Apalagi mengingat apa
yang ku geluti selama ini dan apa yang ingin ku tuju, tak mungkin aku membangun
kehidupan bersamanya. Namun, dalam semua keadaan itu, hatiku tak bisa lepas
darinya”
“Masalah yang rumit”.
Gumamku dalam hati.
“Dan ketika keadaan
membuatku terpisah dengan Rehan, ku anggap itu sebagai bagian hal paling buruk
bagiku, sekaligus sebagai anugerah terindah”. Imbuh Raya yang membuatku
bingung.
“Maksud Raya gimana?”
Tanyaku.
“Rehan, orang yang
selalu ku percaya di tengah lautan prasangka kawan-kawanku ternyata ku pikir-pikir
tak pernah mencintaiku. Perasaan yang ku alami selama bersamanya hanyalah
sebuah fatamorgana. Bahkan, ku dengar kabar bahwa ia sengaja mendekatiku untuk
memanfaatkanu demi sebuah kepentingan. Namun, entahlah dari semua itu tetap
saja aku mencintainya, menganggap semua kabar itu sebagai sebuah warna yang
memiliki multitafsir yang dipengaruhi oleh sudut pandang yang digunakan oleh
penafsirnya. Perasaanku tak pernah bisa berubah, bahkan hingga hari ini. Aku
tetap mencintainya, meski aku tak menginginkan untuk hidup bersamanya. Ya, aku
tak sedikitpun ingin hidup bersamanya. Tak bisa aku dipimpin oleh seorang
Rehan. Sebab, hidup bukan hanya berbicara tentang harta dan keturunan. Tetapi
hidup adalah sebuah perjuangan. Ada orang lain yang harus diperhatikan, ada
nilai-nilai yang harus dilestarikan. Dan ada cinta yang harus disemaikan, tidak
hanya kepada orang sekitar tetapi kepada semua makhluk tuhan. Dan ku perhatikan
bahwa Rehan tak memiliki pandanan seperti itu, hidup baginya sangat sederhana.
Terlalu sederhana untuk ku fikirkan” Jelas Raya
“Dan sekarang, 5
tahun sudah aku terpisah darinya. Entah mengapa cinta itu masih ada, begitu
pula penolakan akal terhadapnya”
“Mengapa kau tak
coba membangun cinta yang baru bersama orang lain?” Tanyaku di detik perhentian
suaranya, lebih tepatnya saran.
“Sebenarnya aku pun
mengharapkan hal yang sama. Tetapi hingga hari ini, aku tak bisa melakukannya.
Meski begitu, di tengah kondisi ini aku memiliki sebuah harapan untuk bisa hidup
bersama seseorang, yang ingin ku dampingi atas nama perjuangan menegakkan
keadilan. Orang yang dulu ditolak hatiku
tetapi diterima oleh akalku saat aku masih bersama Rehan” Jelas Raya.
“Stop Raya! Kau ini
manusia, siluman atau robot? Mengapa hati dan pikiranmu bisa begitu. Jika aku
berada dalam posisi Rehan, mungkin kau sudah ku bunuh. Syukur saja sekarang
Rehan tak bersamamu! Hahaha...” Ucapku langsung beranjak meninggalkan Raya.
“Hey, kau ini
sahabat macam apaaaa?” Teiak Raya sembari berlari mengejarku.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon