>

Catatan 143: Merokok Itu Sehat

Selasa, 25 Oktober 2016. Sebuah penyuluhan tentang kanker ku ikuti di tempat kerjaku. Dua orang, laki-perempuan datang memperkenalkan diri akan menjelaskan sesuatu yang katanya perlu kami ketahui. Yakni tentang sebuah penyakit yang cukup mahal obatnya, kanker.

Perempuan itu maju. Dengan dibantu oleh teman laki-lakinya ia menampilkan sebuah slide presentasi terkait dengan topik penyuluhan. Temanya tentang penyakit kanker. Ku perhatikan slide itu untuk mengetahui siapa pihak-pihak yang terlibat dalam program tersebut. Dua organisasinya ku kenal dengan cukup baik, dan salah satunya adalah organisasi setan berwajah malaikat. Tak mungkin ku sebutkan apa nama organisasi tersebut, sebab jika itu ku lakukan tentu ada kemungkingan tuntutan hukum atas tulisan ini, jika para personil organisasi tersebut membacanya. Maka, untuk mempermudah, ku sebut saja organisasi yang ku maksud sebagai organisasi X .

Mengapa aku menyebut organisasi X sebagai organisasi setan berwajah malaikat? Kau mungkin akan bertanya seperti itu kawan.  Suatu hari mungkin kita akan membahasnya, tetapi sekarang kita fokus dulu pada judul dari catatan ini, “merokok itu sehat”.

Wacana yang berkembang saat ini justru sebaliknya bahwa “merokok itu membunuhmu”, “merokok itu menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin”. Dulu aku pun mempercayai kalimat tersebut sebagai kebenaran, sampai-sampai dengan sangat ekstrimnya pernah ku larang kawan-kawanku merokok saat forum diskusi berlangsung dengan dalih bahwa asapnya tak baik bagi kesehatan, apalagi kami perempuan yang menjadi peserta diskusi, sebab berdasarkan sudut pandang kesehatan kami teridentifikasi sebagai perokok pasif, lebih rentan terkena penyakit daripada perokok aktif. Kebetulan diskusi itu adalah diskusi dalam rangka persiapan hari perempuan. “Bagaimana mungkin kawan-kawan bisa membela perempuan dari segala bentuk penindasan, jika tanpa sadar kawan-kawan menyiksa perempuan dengan asap rokok? Pantaskah kami percaya pada orang-orang yang katanya akan membela hak-hak kami sebagai perempuan sementara menghargai kami saja tidak mau di lakukan. Misalnya dalam forum ini, kawan-kawan tahu dampak negatif rokok tersebut bagi kami, tetapi mengapa kwan-kawan tetap menyalakannya di dekat kami. Jika kawan-kawan menghargai kami dan ingin kami tetap disini, maka silakan matikan rokoknya”. Beberapa kawan kemudian mematikan rokoknya, dan yang lainnya beranjak keluar, menghabiskan rokok yang sudah terlanjur terbakar.

“Terkait dengan rokok, sebelumnya harus diputuskan apakah rokok itu kebutuhan forum atau tidak” Salah satu kawan mencoba melakukan pembelaan. Setelah itu, akhirnya disepakati bahwa dalam forum tersebut nyala rokok harus dimatikan.

Dan sekarang, aku merasa lucu ketika mengingat kejadian itu di saat mindset-ku tentang rokok telah berubah 180 derajat. Sekarang, setelah mendengar wacana-wacana terbaru tentang rokok, terutama wacana dari Sang Guru,  yang disertai dengan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan dalam menyembuhkan penyakit kanker yang katanya salah satunya disebabkan oleh rokok.

Dalam salah satu tulisannya, Muhammad Sobary (budayawan) menyatakan bahwa dr. Gretha Zahar menolong para penderita kanker yang tidak bisa disembuhkan oleh rumah sakit dengan menggunakan kretek (rokok). Kemudian prof. Sutiman, seorang ahli biologi menyembuhkan penyakit kanker payudara istrinya dengan kretek (rokok). Bagi kita yang tinggal jauh dari pusat ilmu pengetahuan, atau tidak update dengan informasi-informasi terbaru, tentu kedua orang yang kusebutkan tadi sangat asing (aku pun mengetahuinya lewat postingan seorang kawan) dan untuk mengecek kebenaran apa yang disampaikan oleh Muhammad Sobary tentu akan terasa sulit. Dalam hal ini, akan ku tunjukkan realta sejarah yang semua orang tahu yang bisa menjadi bukti nyata bahwa rokok tidak menyebabkan timbulknya suatu penyakit, malah menjadi salah satu penyebab kemerdekaan bangsa ini. Kau mungkin faham maksudku. Ya, Sukarno, presiden pertama Indonesia adalah seorang perokok, apakah beliau pernah terkena kanker? Dan yang bisa dilihat hari ini adalah salah satu budayawan Indonesia Emha Ainun Najib, beliau seorang perokok. Tetapi, terlihat nyata bahwa kesehatannya tetap prima. Dan orang-orang disekitar kita, tetangga bahkan keluarga, coba perhatikan selama mereka merokok sudah berapa kali masuk rumah sakit?

Salah satu fakta yang pernah ku saksikan adalah seorang perempuan perokok ketika hamil tetap merokok, dan ketika melahirkan, bayinya dalam kondisi normal, tidak cacat sedikitpun seperti yang diwacanakan orang, bahkan dengan sangat familiar tertulis di bungkus rokok. Tidak hanya itu, rekan kerja ku yang pria rata-rata perokok,  kawan-kawan pria juga rata-rata perokok, guru-guruku pun rata-rata perokok, perempuan tua juga pernah ku lihat ada yang merokok dan mereka sehat-sehat saja. Bahkan belian (tabib suku sasak) menjadikan tembakau (bahan rokok yang biasa dipakai merokok oleh kau pria – tanpa olahan pabrik) sebagai susut (pembersih mulut ketika mereka selesai mengunyah daun sirih), dan mereka tetap sehat.

Lalu apa yang salah sebenarnya?
Sang Guru pernah mengatakan bahwa wacana yang berkembang selama ini adalah bentuk perang kepentingan antara perusahaan rokok dan perusahaan obat-obatan. Tentu wacana ini membutuhkan penelitian untuk memastikan kebenarannya. Kalau aku sih, karena yang ngomong adalah guruku (yang senantiasa mendasari setiap sikap dan perilaku pada Al-Qur’an) yang aku manut saja kepadanya. 

Dan jika kita coba berfikir, sebenarnya ada beberapa fakta aneh bin ghaib terkait dengan rokok:
  1. Para perokok kebanyakan adalah orang yang berpendidikan tetapi tidak bisa membaca dan memahami tulisan peringatan pemerintah terkait dengan kesehatan  yang tertera di bungkus rokok.
  2. Para perokok kebanyakan adalah orang-orang yang mengabaikan peringatan pemerintah yang tertera di bungkus rokok, tetapi selalu ikut dalam pemilihan umum bahkan berjuang keras untuk menjadi pegawainya (PNS).
  3. Pemerintah kok aneh ya, memberi peringatan kepada masyarakat akan bahaya rokok tetapi tidak mau mencabut izin perusahaan rokok.
  4. Para pegawai pemerintah juga banyak yang merokok, jadi masih mending kalau rakyat yang tidak memperhatikan peringatan pemerintah, lah ini pegawainya?
  5. Para pedagang rokok aneh, dibilang tidak bisa membaca tapi bisa membaca. Tetap jualan rokok meski peringatan pemerintah secara tertulis maupun melalui gambar tetap ada di bungkus rokok. Berarti menjual penyebab penyakit (baca: racun) dan tidak dimasukkan ke dalam penjara.
  6. ......... masih banyak fakta aneh lainnya, silakan isi sendiri.

Dan sekarang aku yang sepertinya ikut-ikutan aneh, membela rokok dan  perokok saat penyuluhan kanker yang mengatakan bahwa rokok bisa menyebabkan kanker.

Harap maklum, namanya juga mindset sudah berubah!
Tetapi ketika memilih pasangan hidup, tentunya aku milih yang bukan perokok! Alasannya sederhana, aku tak suka bau rokok!




Previous
Next Post »