
Perempuan itu maju.
Dengan dibantu oleh teman laki-lakinya ia menampilkan sebuah slide presentasi
terkait dengan topik penyuluhan. Temanya tentang penyakit kanker. Ku perhatikan
slide itu untuk mengetahui siapa pihak-pihak yang terlibat dalam program
tersebut. Dua organisasinya ku kenal dengan cukup baik, dan salah satunya
adalah organisasi setan berwajah malaikat. Tak mungkin ku sebutkan apa nama
organisasi tersebut, sebab jika itu ku lakukan tentu ada kemungkingan tuntutan
hukum atas tulisan ini, jika para personil organisasi tersebut membacanya. Maka,
untuk mempermudah, ku sebut saja organisasi yang ku maksud sebagai organisasi X
.
Mengapa aku menyebut
organisasi X sebagai organisasi setan berwajah malaikat? Kau mungkin akan bertanya
seperti itu kawan. Suatu hari mungkin
kita akan membahasnya, tetapi sekarang kita fokus dulu pada judul dari catatan
ini, “merokok itu sehat”.
Wacana yang
berkembang saat ini justru sebaliknya bahwa “merokok itu membunuhmu”, “merokok
itu menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin”. Dulu
aku pun mempercayai kalimat tersebut sebagai kebenaran, sampai-sampai dengan
sangat ekstrimnya pernah ku larang kawan-kawanku merokok saat forum diskusi
berlangsung dengan dalih bahwa asapnya tak baik bagi kesehatan, apalagi kami
perempuan yang menjadi peserta diskusi, sebab berdasarkan sudut pandang
kesehatan kami teridentifikasi sebagai perokok pasif, lebih rentan terkena
penyakit daripada perokok aktif. Kebetulan diskusi itu adalah diskusi dalam
rangka persiapan hari perempuan. “Bagaimana mungkin kawan-kawan bisa membela
perempuan dari segala bentuk penindasan, jika tanpa sadar kawan-kawan menyiksa
perempuan dengan asap rokok? Pantaskah kami percaya pada orang-orang yang
katanya akan membela hak-hak kami sebagai perempuan sementara menghargai kami
saja tidak mau di lakukan. Misalnya dalam forum ini, kawan-kawan tahu dampak
negatif rokok tersebut bagi kami, tetapi mengapa kwan-kawan tetap menyalakannya
di dekat kami. Jika kawan-kawan menghargai kami dan ingin kami tetap disini,
maka silakan matikan rokoknya”. Beberapa kawan kemudian mematikan rokoknya, dan
yang lainnya beranjak keluar, menghabiskan rokok yang sudah terlanjur terbakar.
“Terkait dengan
rokok, sebelumnya harus diputuskan apakah rokok itu kebutuhan forum atau tidak”
Salah satu kawan mencoba melakukan pembelaan. Setelah itu, akhirnya disepakati
bahwa dalam forum tersebut nyala rokok harus dimatikan.
Dan sekarang, aku
merasa lucu ketika mengingat kejadian itu di saat mindset-ku tentang rokok
telah berubah 180 derajat. Sekarang, setelah mendengar wacana-wacana terbaru
tentang rokok, terutama wacana dari Sang Guru,
yang disertai dengan hasil-hasil riset yang dilakukan oleh beberapa
ilmuwan dalam menyembuhkan penyakit kanker yang katanya salah satunya
disebabkan oleh rokok.
Dalam salah satu
tulisannya, Muhammad Sobary (budayawan) menyatakan bahwa dr. Gretha Zahar menolong
para penderita kanker yang tidak bisa disembuhkan oleh rumah sakit dengan
menggunakan kretek (rokok). Kemudian prof. Sutiman, seorang ahli biologi
menyembuhkan penyakit kanker payudara istrinya dengan kretek (rokok). Bagi kita
yang tinggal jauh dari pusat ilmu pengetahuan, atau tidak update dengan
informasi-informasi terbaru, tentu kedua orang yang kusebutkan tadi sangat
asing (aku pun mengetahuinya lewat postingan seorang kawan) dan untuk mengecek
kebenaran apa yang disampaikan oleh Muhammad Sobary tentu akan terasa sulit.
Dalam hal ini, akan ku tunjukkan realta sejarah yang semua orang tahu yang bisa
menjadi bukti nyata bahwa rokok tidak menyebabkan timbulknya suatu penyakit,
malah menjadi salah satu penyebab kemerdekaan bangsa ini. Kau mungkin faham
maksudku. Ya, Sukarno, presiden pertama Indonesia adalah seorang perokok, apakah
beliau pernah terkena kanker? Dan yang bisa dilihat hari ini adalah salah satu
budayawan Indonesia Emha Ainun Najib, beliau seorang perokok. Tetapi, terlihat
nyata bahwa kesehatannya tetap prima. Dan orang-orang disekitar kita, tetangga
bahkan keluarga, coba perhatikan selama mereka merokok sudah berapa kali masuk
rumah sakit?
Salah satu fakta
yang pernah ku saksikan adalah seorang perempuan perokok ketika hamil tetap merokok,
dan ketika melahirkan, bayinya dalam kondisi normal, tidak cacat sedikitpun
seperti yang diwacanakan orang, bahkan dengan sangat familiar tertulis di
bungkus rokok. Tidak hanya itu, rekan kerja ku yang pria rata-rata
perokok, kawan-kawan pria juga rata-rata
perokok, guru-guruku pun rata-rata perokok, perempuan tua juga pernah ku lihat
ada yang merokok dan mereka sehat-sehat saja. Bahkan belian (tabib suku sasak)
menjadikan tembakau (bahan rokok yang biasa dipakai merokok oleh kau pria –
tanpa olahan pabrik) sebagai susut (pembersih mulut ketika mereka selesai
mengunyah daun sirih), dan mereka tetap sehat.
Lalu apa yang salah
sebenarnya?
Sang Guru pernah
mengatakan bahwa wacana yang berkembang selama ini adalah bentuk perang
kepentingan antara perusahaan rokok dan perusahaan obat-obatan. Tentu wacana ini
membutuhkan penelitian untuk memastikan kebenarannya. Kalau aku sih, karena
yang ngomong adalah guruku (yang senantiasa mendasari setiap sikap dan perilaku
pada Al-Qur’an) yang aku manut saja kepadanya.
Dan jika kita coba
berfikir, sebenarnya ada beberapa fakta aneh bin ghaib terkait dengan rokok:
- Para perokok kebanyakan adalah orang yang berpendidikan tetapi tidak bisa membaca dan memahami tulisan peringatan pemerintah terkait dengan kesehatan yang tertera di bungkus rokok.
- Para perokok kebanyakan adalah orang-orang yang mengabaikan peringatan pemerintah yang tertera di bungkus rokok, tetapi selalu ikut dalam pemilihan umum bahkan berjuang keras untuk menjadi pegawainya (PNS).
- Pemerintah kok aneh ya, memberi peringatan kepada masyarakat akan bahaya rokok tetapi tidak mau mencabut izin perusahaan rokok.
- Para pegawai pemerintah juga banyak yang merokok, jadi masih mending kalau rakyat yang tidak memperhatikan peringatan pemerintah, lah ini pegawainya?
- Para pedagang rokok aneh, dibilang tidak bisa membaca tapi bisa membaca. Tetap jualan rokok meski peringatan pemerintah secara tertulis maupun melalui gambar tetap ada di bungkus rokok. Berarti menjual penyebab penyakit (baca: racun) dan tidak dimasukkan ke dalam penjara.
- ......... masih banyak fakta aneh lainnya, silakan isi sendiri.
Dan sekarang aku
yang sepertinya ikut-ikutan aneh, membela rokok dan perokok saat penyuluhan kanker yang mengatakan
bahwa rokok bisa menyebabkan kanker.
Harap maklum, namanya
juga mindset sudah berubah!
Tetapi ketika
memilih pasangan hidup, tentunya aku milih yang bukan perokok! Alasannya
sederhana, aku tak suka bau rokok!
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon