>

Catatan 148: Waspada! Mungkin Dia Bukan Teman!

Suara itu memang tak terdengar, tetapi terasa begitu jelas bagaimana perilakunya mengungkapkan isi hatinya. Aku tak bisa mengklaim bahwa apa yang ku rasakan sebagai suatu kebenaran atau kekeliruan, yang bisa ku lakukan hanyalah waspada pada setiap sikap dan perilakuku terhadapnya. Tak mungkin aku terbuka lagi padanya, apalagi ia bukan tipe orang yang bisa memahami wacana-wacana yang ku ungkapkan. Ia memang mendengar, tetapi kita memahami bahwa tidak semua orang mampu memahami apa yang ia dengarkan.

Kian hari, kurasakan ada sesuatu yang coba ia sembunyikan dariku. Di hadapanku ia bersikap seolah-olah tak ada apa-apa, tetapi gelagatnya mengatakan hal yang berbeda. Jika ku sebutkan rasa apa yang ku miliki itu, aku hawatir ini akan berujung pada sebuah prasangka buruk. 

Tidak!
Tidak akan ku biarkan rasa ini berwujud. Biarkan saja ia tetap abstrak di telan waktu, dan akhirnya menghilang tanpa jejak. Dan pastinya hubungan pertemanan itu tetap terjaga walau dalam status semu.
Previous
Next Post »