>

Catatan 149: Transformasi Negatif


Tak bisa ku elakkan rasa jijik karena memiliki kesadaran akan suatu hal bahwa beberapa aktivis yang awalnya menyatakan diri berjuang membela rakyat pada akhirnya memilih jalan baru, inklud dengan program imperealis yang secara konsep harus ia injeksikan dalam masyarakat awam yang secara pemetaan termasuk masyarakat yang harus dibina melalui program-program para impe. Apalagi kemudian mereka sebut itu sebagai perjuangan untuk rakyat padahal sebenarnya mereka berjuang untuk perut mereka, berjuang untuk sebuah kepemilikan yang bersipat materialisme.

Aku tak bermaksud menghakimi mereka. Lagi pula aku bukan siapa-siapa kecuali orang yang pernah berteman dengan mereka. Dan sekali lagi ku katakan bahwa aku hanya merasa jijik, hampir mual ketika melihat orang-orang itu, yang dulunya dengan lantang berteriak membela rakyat dan sekarang malah tunduk menjadi budak para imperialis.

Di katakan seperti ini tentu mereka (orang-orang yang ku maskud) akan membela diri bahkan dengan segenap jiwa dan raga memutar balikkan fakta. Makanya, tak ku sebutkan siapa orang yang ku maksud. Meski aku punya data tentangnya. Bukan karena aku takut dengan respon mereka, tetapi untuk apa? Tak ada manfaatnya berdebat dengan mereka. Yang ada malah mudaratnya, salah satunya buang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Lebih baik dimanfaatkan ke hal lain yang lebih bermanfaat, untuk diri sendiri dan untuk lingkungan sekitar. Apalagi tadi ku baca postingan seorang teman bahwa negara sebentar lagi bangkrut karena utang negara yang sudah mencapai ribuan triliun! Semoga postingan itu hanya hoak.
Previous
Next Post »