>

Catatan 132: Catatan Akhir Mahasiswa (1)

Dengan nada bercanda, salah seorang dosenku selalu menjadikanku contoh bagi mahasiswa lainnya, terutama bagi adik tingkat yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir, apalagi kalau bukan skripsi. Mendengar itu, aku selalu merespon dengan tertawa dan sesekali memberikan jawaban, “terlambat jadi sarjana gak apa-apa yang penting bahagia!”

Sudah menjadi wacana umum hari ini, dimana perkuliahan diikuti untuk mendapatkan kertas ajaib yang kata beberapa orang bisa memberikan pekerjaan atau minimal ngelamar kerja (baca: ijazah). Bahkan, para orang tua pun tak sedikit membiayai anak-anaknya agar menjadi sarjana dan dapat pekerjaan yang akhirnya berujung pada pengumpulan materi, lagi-lagi kertas ajaib yang kata sebagian besar orang bisa memberi kehidupan kepada manusia (baca: uang). Tetapi, setiap orang boleh berwacana, setiap orang boleh berpendapat. Namun, setiap orang tidak berhak memaksakan wacana atau pendapatnya kepada orang lain. Sebab, bisa saja bagi orang lain itu benar dan bagi orang lain itu salah.

Aku pun begitu. Ketika masa perkuliahan yang katanya terlambat ku selesaikan sering kali menjadi bahan olok-olokan beberapa dosen. Ku katakan pada mereka, “tenang saja pak, nanti juga selesai. Ada waktunya. Mengenai lewatnya masa kuliah ideal, ya begitulah kehidupan, ada yang ngatur. Dan yang paling penting adalah saya kuliah biar dapet ilmu bukan ngejar gelar sarjana!”

Dan sekarang aku sudah di tahap akhir, semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu jadwal pendaftaran wisuda yang entah kapan akan dibuka. Terkait dengan itu, salah seorang dosen yang sekarang akhirnya menjabat sebagai ketua program study memberikan janji akan memberi kabar terkait dengan hal tersebut. Jadi, tinggal ditunggu saja.


Untuk kampusku, terima kasih karena telah membuat kebijakan baru yang menjadi salah satu alasan bagiku untuk segera menyelesaikan proses perkuliahan. Jika bukan karena kebijakan baru itu, mungkin hari ini aku belum bisa terdaftar dalam barisan nama mahasiswa dengan kategori lulus. Disatu sisi, kebijakan tersebut bikin kesel, tetapi di sisi lain justru menimbulkan rasa syukur. Dan aku lebih memilih untuk berada pada titik yang kedua, bersyukur!  
Previous
Next Post »