Dengan nada
bercanda, salah seorang dosenku selalu menjadikanku contoh bagi mahasiswa
lainnya, terutama bagi adik tingkat yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan
tugas akhir, apalagi kalau bukan skripsi. Mendengar itu, aku selalu merespon
dengan tertawa dan sesekali memberikan jawaban, “terlambat jadi sarjana gak
apa-apa yang penting bahagia!”
Sudah menjadi wacana
umum hari ini, dimana perkuliahan diikuti untuk mendapatkan kertas ajaib yang kata beberapa orang bisa memberikan
pekerjaan atau minimal ngelamar kerja (baca: ijazah). Bahkan, para orang tua pun
tak sedikit membiayai anak-anaknya agar menjadi sarjana dan dapat pekerjaan
yang akhirnya berujung pada pengumpulan materi, lagi-lagi kertas ajaib yang
kata sebagian besar orang bisa memberi kehidupan kepada manusia (baca: uang).
Tetapi, setiap orang boleh berwacana, setiap orang boleh berpendapat. Namun,
setiap orang tidak berhak memaksakan wacana atau pendapatnya kepada orang lain.
Sebab, bisa saja bagi orang lain itu benar dan bagi orang lain itu salah.
Aku pun begitu.
Ketika masa perkuliahan yang katanya terlambat ku selesaikan sering kali
menjadi bahan olok-olokan beberapa dosen. Ku katakan pada mereka, “tenang saja
pak, nanti juga selesai. Ada waktunya. Mengenai lewatnya masa kuliah ideal, ya
begitulah kehidupan, ada yang ngatur. Dan yang paling penting adalah saya
kuliah biar dapet ilmu bukan ngejar gelar sarjana!”
Dan sekarang aku sudah
di tahap akhir, semuanya sudah selesai. Tinggal menunggu jadwal pendaftaran
wisuda yang entah kapan akan dibuka. Terkait dengan itu, salah seorang dosen
yang sekarang akhirnya menjabat sebagai ketua program study memberikan janji
akan memberi kabar terkait dengan hal tersebut. Jadi, tinggal ditunggu saja.
Untuk kampusku,
terima kasih karena telah membuat kebijakan baru yang menjadi salah satu alasan
bagiku untuk segera menyelesaikan proses perkuliahan. Jika bukan karena
kebijakan baru itu, mungkin hari ini aku belum bisa terdaftar dalam barisan
nama mahasiswa dengan kategori lulus. Disatu sisi, kebijakan tersebut bikin
kesel, tetapi di sisi lain justru menimbulkan rasa syukur. Dan aku lebih
memilih untuk berada pada titik yang kedua, bersyukur!
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon