Hari ini, aku melihatnya menunduk,
menahan tangis dan sesekali mengusap mata yang terpaksa harus basah. Aku
mencoba menegurnya, bertanya mengapa dan ada apa. Yang menjawab bukan dia
tetapi orang yang disampingnya. Menjawab dengan melontarkan kata-kata yang
tidak indah yang bisa dikatakan sebuah asumsi tanpa dasar. Aku menyesal,
mengapa pertanyaan itu ku koarkan. Mengapa tak kutahan diri untuk beberapa
menit dan memberikan pertanyaan itu dalam ruang hening tanpa suara, tanpa napas
lain selain aku dan dia.
Dia semakin menunduk, menatap sedih
orang yang mewakilinya untuk menjawab pertanyaanku. Bahkan, dengan tatapan itu
ia hendak berkata, “bukan, bukan itu bu!” Aku mencoba menetralisir keadaan yang
semakin riuh. Beragam komentar hadir. Aku masih mencoba memahami keadaan,
bahkan tidak hanya hari ini, di waktu lain, di kelas yang berbeda, gejala yang
sama pun terjadi. Terkait hal ini, mungkin kapan-kapan bisa ku ceritakan.
Jam pelajaran sudah usai. Ia
menghampiriku, mencoba tersenyum saat meraih tanganku untuk ia salami. Ku
katakan kepadanya untuk diam dulu. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya. Yang
lainnya, ku minta dengan segera meninggalkan ruangan, dan memberi hening kepada
kami, untuk bicara.
Ku sebut saja ia dengan nama Amelia.
“Tadi, ibu dengar dari temannya, Amelia
mau berhenti sekolah, benarkah?” Amelia hanya menunduk tanpa memberikan
jawaban. Namun, sikapnya itu ku artikan sebagai jawaban “ya”. Aku pun mulai
bertanya kepadanya tentang beberapa hal, tentang apa yang terjadi dan tentang
keluarganya. Ku dapatkan informasi bahwa ia adalah salah satu anak “broken
home” dimana ibunya menikah lagi dan meninggalkannya ke Kalimantan. Ayahnya pun
telah memiliki keluarga baru, hidup terpisah dengannya. Sekarang ia tinggal
bersama sang nenek bersama seorang adiknya yang sekarang duduk di bangku SMP.
“Jika di rumah, apa yang dikerjakan?”
Tanyaku
“Tidur!” Jawabnya polos.
“Apakah tidak ada buku bacaan di
rumahnya?”
“Tidak ada, eh ada!”
“Beneran mau berhenti sekolah?”
“Ya, bu!”
“Kenapa? Mau menikah?”
“Tidak bu!”
“Menikah itu juga butuh ilmu nak!”
Ingin ku katakan padanya bahwa menuntut
ilmulah dulu. Urusan menikah nanti saja. Karena menikah itu butuh ilmu agar
pernikahaan bisa barokah. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokanku.
Mungkin belum saatnya untuk di keluarkan.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon