>

Catatan 131: Amelia

Hari ini, aku melihatnya menunduk, menahan tangis dan sesekali mengusap mata yang terpaksa harus basah. Aku mencoba menegurnya, bertanya mengapa dan ada apa. Yang menjawab bukan dia tetapi orang yang disampingnya. Menjawab dengan melontarkan kata-kata yang tidak indah yang bisa dikatakan sebuah asumsi tanpa dasar. Aku menyesal, mengapa pertanyaan itu ku koarkan. Mengapa tak kutahan diri untuk beberapa menit dan memberikan pertanyaan itu dalam ruang hening tanpa suara, tanpa napas lain selain aku dan dia.

Dia semakin menunduk, menatap sedih orang yang mewakilinya untuk menjawab pertanyaanku. Bahkan, dengan tatapan itu ia hendak berkata, “bukan, bukan itu bu!” Aku mencoba menetralisir keadaan yang semakin riuh. Beragam komentar hadir. Aku masih mencoba memahami keadaan, bahkan tidak hanya hari ini, di waktu lain, di kelas yang berbeda, gejala yang sama pun terjadi. Terkait hal ini, mungkin kapan-kapan bisa ku ceritakan.

Jam pelajaran sudah usai. Ia menghampiriku, mencoba tersenyum saat meraih tanganku untuk ia salami. Ku katakan kepadanya untuk diam dulu. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya. Yang lainnya, ku minta dengan segera meninggalkan ruangan, dan memberi hening kepada kami, untuk bicara.

Ku sebut saja ia dengan nama Amelia.

“Tadi, ibu dengar dari temannya, Amelia mau berhenti sekolah, benarkah?” Amelia hanya menunduk tanpa memberikan jawaban. Namun, sikapnya itu ku artikan sebagai jawaban “ya”. Aku pun mulai bertanya kepadanya tentang beberapa hal, tentang apa yang terjadi dan tentang keluarganya. Ku dapatkan informasi bahwa ia adalah salah satu anak “broken home” dimana ibunya menikah lagi dan meninggalkannya ke Kalimantan. Ayahnya pun telah memiliki keluarga baru, hidup terpisah dengannya. Sekarang ia tinggal bersama sang nenek bersama seorang adiknya yang sekarang duduk di bangku SMP.

“Jika di rumah, apa yang dikerjakan?” Tanyaku

“Tidur!” Jawabnya polos.

“Apakah tidak ada buku bacaan di rumahnya?”

“Tidak ada, eh ada!”

“Beneran mau berhenti sekolah?”

“Ya, bu!”

“Kenapa? Mau menikah?”

“Tidak bu!”

“Menikah itu juga butuh ilmu nak!”

Ingin ku katakan padanya bahwa menuntut ilmulah dulu. Urusan menikah nanti saja. Karena menikah itu butuh ilmu agar pernikahaan bisa barokah. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokanku. Mungkin belum saatnya untuk di keluarkan.
Previous
Next Post »