Ketika
usaha kami mulai mendapat titik terang, mulai mendapat restu Tuhan...
Ini
adalah wacana kami yang mencoba berbaik sangka pada Tuhan beserta segala pesan
semesta yang Ia berikan dalam penantian terwujudnya sebuah kabar gembira menjadi
kenyataan.
3
Nopember 2015. Aku nge-like sebuah status salah seorang kawan yang menampilkan
sebuah lapak buku yang bisa dikunjungi. Awalnya aku mengira dia yang posting,
tetapi setelah ku perhatikan ternyata ia ditandai. Karena memang suka dengan
status itu, maka ku like. Tak nyangka! Ternyata hal tersebut di respon positif
dengan menyarankan agar aku meminta bantuan bahan bacaan tambahan pada salah
seorang kawannya.
“Beneran
nih?” Tanyaku pada kawanku itu dalam kolom komentar facebook.
“Ya
mbak!” Jawab yang punya status
“Tapi
untuk taman baca saya belum punya, yang ada adalah perpustakaan kelas di
madrasah tempat saya ngajar. Kebetulan saya menjadi wali kelasnya” Jawabku
“Coba
colek mbak Eka! Semoga bisa dibantu!”
“Sudah
saya add tadi, tapi belum di komfirmasi”
Beberapa
menit kemudian orang yang dimaksud, Mbak Eka memberikan komentar di kolom yang
sama.
“Hai,
mbak Kim! Bisa banget! Daftar saja kebutuhannya sekaligus jenis bahan bacaan
yang dibutuhkan!”
Mendapat
jawaban seperti itu, rasanya seneng luar biasa.
“Ya,
Allah... Terima kasih mbak!” Jawabku.
4
Nopember 2016. Hari ini aku menyampaikan kabar gembira itu kepada siswaku, dan
tentu saja mereka sangat bahagia. Koleksi bahan bacaan di perpustakaan kelas
akan bertambah. Pesanku pada mereka, “Ini masih kabar gembira, belum menjadi
kenyataan. Bisa saja yang berniat ngasih buku itu membatalkan niatnya. Maka,
mulai hari ini buatlah kondisi agar kalian pantas untuk mendapat bantuan buku
tersebut, dan tentu saja jangan lupa berdoa kepada Tuhan. Sebab kita punya kehendak,
orang punya kehendak, dan Tuhan pun punya
kehendak. Maka percayalah bahwa yang berlaku adalah kehendak Tuhan!”
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon