>

Refleksi Akhir Tahun 2012 - FMN Lombok Timur


Sejarah, jika tak ditulis maka akan hilang. Foto memang bisa bercerita, namun tak banyak yang bisa diceritakan. Ia hanya berperan untuk memperjelas kebenaran dari sejarah yang terjadi. Tanpa foto pun sejarah selalu indah jika dituliskan. Sebab, dengan begitu beragam makna bisa dipetik, pun juga inspirasi-inspirasi tak terduga bisa hadir dalam benak setiap orang yang membacanya.

Di FMN (Front Mahasiswa Nasional), aku bukan termasuk anggota super aktif atau super pasif. Pokoknya begitu ada kesempatan, aku kumpul bersama kawan-kawan. Meski begitu, tetap saja aku masuk dalam kategori alumni FMN yang memiliki visi “mewujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat”. Tanpa ada ritual dan tetek bengek lainnya, begitu gelar sarjana kami dapatkan dari kampus, maka status alumni langsung disandang.

Aku masuk FMN pada awal tahun 2012. Pertanyaan pertama yang ku ajukan setelah pemaparan kawan-kawan terkait dengan kondisi kampus saat itu adalah ,”jika memang kawan-kawan menganggap kampus ini tidak ilmiah, mengapa kawan-kawan mau kuliah disini?” Sebab, sebagai mahasiswa yang baru bergabung dengan FMN, aku hanya berfikir bahwa kampus adalah tempat menuntut ilmu, ya pastinya ilmiah.  Di samping itu, aku juga belum fokus dengan kehidupan kampus, datang dan pergi begitu saja dengan perasaan campur aduk. Kadang kalau dosennya gak masuk, senengnya luar biasa – padahal kan rugi sebenarnya. Tapi, terkadang kesel juga, udah datang jauh-jauh eh dosen gak dateng, apalagi hujan (saat itu aku belum ngekos). “Kalau emang gak masuk, kasih kabarlah!” Gerutuku dalam hati.

Pohon terus tumbuh, berkembang dalam iringan waktu yang terus bergulir. Semut tetap saja menyukai yang manis-manis. Namun, ku perhatikan anjing dan kucing sepertinya sudah melakukan genjatan senjata, sehingga ketika bertemu selalu saling menyapa, minimal melempar senyum manis. Sementara aku, sudah tak peduli lagi apakah dosen masuk atau tidak. Mau masuk alhamdulillah, tidak masuk ya alhamdulillah. Toh, belajar tak harus di kelas dan bersama dosen. Aku bisa belajar dimana saja  dan dengan siapa saja.  Bahkan terkadang ketika dosen masuk, malah aku yang tidak masuk. Tentu dalam batas kewajaran (maksimal 3 kali  gak masuk untuk satu mata kuliah).  
Halaman depan sekretariat FMN

Akhir tahun pun tiba.

Organisasi akan melakukan refleksi akhir tahun. Setelah didiskusikan akhirnya dipilih Pantai Kwang Whae sebagai lokasi kegiatan. Dengan biaya Rp 15.000,00 per anggota plus beras dan dua bungkus mie instan, kami pun berangkat dengan penuh semangat. Tak ada proposal, tak ada permintaan sumbangan kepada siapapun untuk melaksanakan kegiatan tersebut (Kegiatan lainnya juga begitu. Pantang bagi kami untuk menadahkan tangan kepada siapapun, termasuk kawan-kawan yang lama yang sudah masuk dalam kategori alumni). Kalaupun harus meminta sumbangan ke kawan-kawan, yang kami minta adalah sumbangan pemikiran bukan dalam bentuk uang dan sebagainya.

Foto bareng ketika bikin tenda
Kwang Whae terletak di Kecamatan Sakra Timur – Kabupaten Lombok Timur. Saat itu, di daerah tersebut terdapat tambak udang (aku lupa dengan hasil analisis terkait dengan dampak tambak tersebut bagi masyarakat sekitar dan lingkungan). Jika kawan-kawan pembaca (terutama yang hari ini terdaptar sebagai anggota FMN) mau tau tentang hasil analisis tersebut, silakan menghubungi kawan-kawan yang wajahnya terpampang di foto.

Begitu tiba di lokasi, yang pertama dilakukan adalah pembuatan tenda. Ya iya lah masak ngerias pengantin! Haha...

Sore di Kwang Whae
Sore hadir bersama deru ombak, bernyanyi bersama angin yang mengibarkan bendera perjuangan kami, berdera putih bertuliskan FMN. Mengibarkan semangat kami untuk terus berjuang dan berjuang.


Acara pembukaan pun di gelar.

Mars FMN dinyanyikan.

Forum dibuka.

Beberapa kawan angkat suara, memberikan wacana tentang latar belajang dan tujuan mengapa refleksi akhir tahun dilaksanakan. Sekaligus menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan nanti malam, dimana akhirnya disepakati bahwa kawan-kawan boleh bersuara dan memang harus bersuara. Memberikan kritik dan masukan kepada organisasi, terutama kepada kawan-kawan yang masuk dalam wilayah pimpinan dengan catatan ketika kritik diungkapkan tidak boleh ada klarifikasi. Semuanya akan ditampung sebagai masukan untuk perbaikan ke depan. Dengan catatan bahwa kritik dan masukan yang diberikan harus benar-benar objektif.

*** 

Foto bareng setelah diskusi
Malam pun tiba.

Purnama hadir dengan senyumannya, seolah-olah ikut bahagia melihat semangat yang terpancar dari wajah kami.

Tikar digelar.
Megaphone disiapkan.
Diesel dinyalakan.
Semua anggota bersiap untuk mengikuti acara inti kegiatan.

Mars FMN, mars pemuda dan mars perempuan dinyanyikan sebagai penyemangat jiwa untuk tetap berjuang mewujudkan apa yang dicita-citakan, pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat.

Foto bareng setelah diskusi
Setelah acara dibuka, panitia membacakan aturan forum diskusi yang telah disepakati untuk mengingatkan kawan-kawan anggota agar forum bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Kawan-kawan mulai berbicara. Memberikan kritik dan masukan. Ada yang tersindir, bahkan langsung disebut sebagai tersangka atas suatu konteks yang dianggap sebagai kekeliruan dalam berorganisasi. Suasana sempat memanas. Namun, kontrol tetap dijaga sehingga forum tersebut berakhir tanpa ada rasa pahit yang menyesakkan dada, terutama bagi yang kena kritik.

*** 

Diskusi pagi sebelum pulang

Bukan FMN namanya jika tak ada forum diskusi.

Ketika matahari membentuk sudut sekitar 30 derajat. Diskusi digelar kembali. Diskusi evaluasi terkait dengan kegiatan yang telah dilaksanan plus laporan pertanggungjawaban panitia. Selesai itu, acara ditutup dan kami pun bersiap-siap untuk pulang. Tentu saja, sebelum mesin kendaraan dinyalakan, foto bareng selalu menjadi agenda yang tak boleh terlewatkan.

Salam Demokrasi Nasional!





Previous
Next Post »