Alat-alat
kebersihan belum kami beli. Iuran belum terkumpul. Aku berharap teman-teman
menyelesaikan angsuran iurannya besok pagi, sehingga Jumat besok bisa menjadi
Jumat bersih di kelas kami.
Seperti yang
ku katakan pada tulisan sebelumnya, kami mengeluarkan iuran sebesar Rp7.000,00.
Demi menjada kebersihan lingkungan kelas aku menyisihkan uang jajan untuk melunasi
iuran itu. Tak perlu lapor ke orang tua. Uang sebesar itu kalau ku minta sama
orang tuaku, mungkin tanpa meminta dua kali akan langsung diberikan, karena
orang tuaku sangat mendukung segala hal yang berkaitan dengan pendidikanku,
apalagi ini demi kenyamanan belajar di kelas. Bagaimana dengan teman-teman? Entahlah,
aku tak bertanya, dan belum ada yang cerita soal ini. Tapi, kurasa yang lain
juga melakukan hal yang sama. Mungkin juga tidak. Tapi semoga saja tak ada di
antara kami yang menjadikan ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan uang
tambahan lebih seperti cerita-cerita yang pernah ku dengar.
Sekitar
pukul sembilan, wali kelas kami datang.
Wali kelas mulai mengabsen kami.
Ada dua orang
yang tidak ada di kelas. Dedi dan Faozi. Kabarnya Dedi bolos dan Faozi masih di
luar kelas. Namun, beberapa saat kemudian dua orang tersebut hadir. Alhamdulillah,
anggota kelas hadir 100%.
***
Pukul 9
lebih beberapa menit.
Wali kelas kami kebetulan juga nantinya akan mengajar kami matematika. Maka, sebagai
persiapan awal untuk menghadapi materi pelajaran, Bu guru mengecek kemampuan
berhitung kami, dengan memberikan soal secara lisan terkait dengan operasi hitung
bilangan, penjumlahan dan pengurangan. Dan akhirnya aku terdeteksi sebagai
siswa yang masih lemah dalam melakukan operasi perkalian. Aku masih berpikir
cukup lama ketika Bu Guru memberi pertanyaan. Ternyata aku membutuhkan waktu
cukup lama untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya ku kuasai ketika duduk di
bangku SD. Sedih dan malu sekali rasanya. Untungnya Bu Guru memberi solusi
terkait hal tersebut. Besok pagi kami akan diberikan bimbingan belajar.
Bu Guru tak
memaksa kami untuk ikut bimbingan. Beliau memberikan kebebasan kepada kami
untuk memilih ikut atau tidak. Aku mengangangkat tangan sebagai tanda ikut,
teman-teman perempuan juga melakukan hal yang sama. Sementara tak ada tangan yang
terangkat dari teman laki-laki. Bu Guru mengatakan itu tak masalah, tapi
menurutku sangat disayangkan. Tapi mau bagaimana lagi, itu pilihan mereka.
Seperti
yang dijanjikan Bu Guru dalam grup WA kelas, kami dibagikan permen.
Masing-masing dapat 2 buah permen. Aku tak terlalu suka permen kopi, tapi tak
mungkin ku tolak pemberian Bu Guru. Itu namanya menolak rezeki. Maka, ku
masukkan permen itu ke dalam kantung tasku. Ku anggap sebagai hadiah pertama
yang diberikan Bu Guru kepadaku. Siapa tau nanti di akhir semester aku bisa
mendapatkan hadiah yang lebih besar atas prestasi yang mungkin akan ku ukir,
sebuah laptop, medali emas atau mungkin tiket umroh yang bisa ku berikan kepada
orang tuaku.
Mimpi?
Ingat,
kenyataan berawal dari mimpi. Siapa tau kejadian. Toh, mimpi gak perlu bayar.
Gak masuk
akal?
Sejak kapan
mimpi itu masuk akal? Hahaha… Ku rasa kau juga pernah memimpikan sesuatu hal
yang tidak masuk akal. Bertemu dengan Lisa Black Pink? atau menjadi istri gubernur
NTB masa depan. Jangan bilang kalau kau mimpi jadi Lady Gaga atau Agnes Monica!
Hahaha….
***
Sebelum
pulang kami diberikan surat undangan rapat untuk orang tua/wali. Untungnya
kedua orang tuaku tak pergi liburan ke Bali, jadi ada kemungkinan salah satunya
akan hadir.
Untuk
proses bimbingan belajar besok pagi, Bu Guru hanya mengintruksikan kami untuk
menyiapkan alat tulis. Gak perlu bawa bakso, apalagi rujak sambal terasi. Cukup
hadir sepenuh hati dengan semangat tinggi seperti nonton Gazali bernyanyi.
What?
Kalian
nanya siapa Gazali?
Itu loh
penyanyi cilokaq yang sekarang lagi viral! Hahaha…
Mari
viralkan kelas kita dengan prestasi!
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon