>

Jurnal Kelas X.1: Hari Kedua Masuk Sekolah


Ada beberapa hal terjadi hari ini. Salah satunya adalah kami kumpul di kelas bersama wali kelas untuk membuat perencanaan dan kesepakatan. Mulai dari memilih ketua kelas yang masa jabatannya satu bulan. Untuk menguji seberapa berhasil salah satu di antara kami memegang kepemimpinan kelas. Kemudian membuat jadwal piket yang dalam hal ini ketua kelas dan wakilnya tidak masuk dalam daptar piket kelas. Ketua kelas memang tidak masuk daptar tetapi menurutku, ketua dan wakilnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari kami, para petugas piket. Sebab, ketua dan wakilnya menjalankan peran pengawasan atau monitoring terhadap petugas piket.

Selanjunya, bersama wali kelas kami menganalisa kebutuhan kelas. Hingga hari ini belum ada informasi yang kami terima terkait dengan alat-alat kebersihan yang mungkin akan kami terima dari madrasah. Tapi, kata bu guru, kami harus mandiri. Kalaupun nanti ada yang kami terima, anggap saja itu sebagai tambahan untuk memperindah kelas.

Ada beberapa hal yang harus kami adakan. Mulai dari sapu, penghapus, kemoceng, taplak meja hingga bak sampah. Kami mencoba menganalisa harganya, yang kalau ditotal sekitar Rp145.000,00. Kami sengaja menulis harga tinggi untuk masing-masing item, untuk antisipasi. Mending anggaran lebih, daripada kurang.

Untuk pembelian alat-alat kebersihan kelas, kami sepakat untuk sama-sama mengeluarkan uang sebesar Rp7.000,00. Tidak hanya kami, bu guru juga. Uang ini akan kami angsur selama 3 hari.

Oh ya, terkait dengan pemilihan ketua kelas, ada tiga calon yang diusung, Leni, Indri dan Hamzani. Dalam pemilihan ini, kami belajar sedikit tentang demokrasi. Kami melakukan pemilihan ketua dengan mengikuti konsep pemilihan umum, jujur, adil dan rahasia. Hingga akhirnya terpilihlah Hamzani sebagai ketua kelas kami dengan perolehan suara sebanyak 9 suara. Kemudian Hamzani diberi hak untuk memilih wakilnya, karena menurut bu guru, agar pekerjaan bisa dilakukan dengan baik seseorang harus bekerja sama dengan orang yang tepat. Maka pemilihan orang yang tepat itu diberikan sepenuhnya kepada Hamzani sebagai ketua kelas kami.

Entah dengan pertimbangan apa, Hamzani akhirnya memilih Zainul Akbar. Mungkin kebetulan saat itu Zainul duduk dengannya, jadi yang terpikir hanya Zainul. Atau mungkin mereka sudah berteman sejak lama sehingga mereka sudah nyaman untuk melakukan sesuatu bersama.

Kenapa Hamzani tidak memilih anak cewek?

Mungkin Hamzani malu, tidak nyaman atau menghindari wacana-wacana tidak menyenangkan dari teman-teman yang kadang kalau ngomong ngaco, atau Hamzani hendak memberikan ketenangan kepada seseorang yang diam-diam ia sukai di kelas kami. Ah, hanya Hamzani yang tahu akan hal itu. Semoga saja, Hamzani mau merespon tulisan ini dengan tulisan yang menjelaskan alasan dibalik pilihan yang ia buat.

Untuk sekretaris dipilih Hanima, dan bendahara Leni.

Tak seperti Hamzani dan Zainul. Hanima dan Leni tetap masuk dalam daptar piket. Kata bu guru, petugas piket yang tertera namanya di jadwal wajib menjaga kebersihan kelas di pagi hari hingga jam keluar main. Setelah itu kebersihan kelas menjadi tugas bersama yang akan dimonitoring oleh Hamzani, dan wakilnya Zainul.

Previous
Next Post »