>

Zahwa

 

Alhamdulillah, minggu ini Zahwa mulai ikut bimbingan. Sekarang dia telah menjadi siswa kelas 5. Belum masuk sekolah, masih libur.

Keputusan belajar atau tidak itu saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak, juga orang tuanya. Jika selama libur sekolah anak-anak mau ikut bimbingan belajar, saya menerima itu dengan senang hati. Karena kebetulan juga tak ada agenda liburan ke luar daerah, atau ke luar negeri.

Zahwa memilih belajar.
Bundanya mendukung penuh.
Dua kali pertemuan selalu datang tepat waktu.
Saya memberi jadwal sekitar jam 4 sore.
Tak pernah terlambat.

Pertemuan pertama saya melakukan asesmen dengan menguji kemampuan matematika dasar. Nilainya baik. Operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana bisa dilakukan tanpa menggunakan alat bantu hitung. Perkalian cukup baik. Meski belum hafal semua, itu bukan masalah. Ia sudah faham maksud dari perkalian itu sendiri. Tinggal menggunakan sempoa ia bisa menemukan hasilnya. Meski beberapa kali melakukan kesalahan. Itu wajar. Pembagian masih agak bingung. Nah, materi itu kemudian kami perdalam .

Memberi penjelasan terkait dengan apa yang masih kurang difahami Zahwa tak perlu menguras waktu dan tenaga. Daya serapnya baik. Sama seperti anak-anak lainnya, Zahwa hanya perlu dibimbing, ditemani, dan difahami dengan baik ketika ia mulai bingung, dan dibantu tanpa harus meminta bantuan. Bagaimana caranya? Ekspresi. Anak-anak kadang berbicara dengan ekspresi dan bahasa tubuh.

Hari ini, Zahwa lupa bawa lembar mewarnai yang pernah saya berikan. Tak masalah. Karena saya juga masih butuh data terkait dengan kemampuan Zahwa. Maka, proses pembelajaran difokuskan pada matematika. Mulai dari operasi hitung dasar, coding, sampai penyelesaian soal-soal sederhana. Yang menakjubkan dari Zahwa, selama sekita 2 jam ia menyelesaikan lembar kerja, tak ada ekspresi lelah dari wajahnya. Saya sengaja bertanya, "capek?" Ia menjawab, "tidak". Saya bertanya lagi, "Mau lanjut atau istirahat ". Ia jawab, "lanjut".

Tak hanya Zahwa, beberapa anak lainnya yang ikut bimbingan juga mengatakan hal yang sama.

Untuk saat ini, saya membuat kesimpulan. Sebenarnya tak ada anak yang malas belajar, yang ada adalah anak-anak yang belum difahami dengan baik oleh orang-orang sekitarnya. Jadi, sebelum kita mengatakan bahwa "anak malas belajar", segera bercermin, segera berfikir bagaimana keteladanan yang kita berikan selama ini kepada anak-anak. Kita berharap anak-anak rajin belajar, seberapa sering kita memberikan keteladanan kepada anak-anak bagaimana aktivitas belajar dilakukan? Atau jangan-jangan kita adalah bagian dari orang dewasa yang teriak-teriak ke anak nyuruh rajin belajar, sementara kita justru aktif scroll video di medsos. Apalagi sekarang banyak video aneh yang berseliweran di beranda kita yang menarik perhatian, lalu kita lupa bahwa ada generasi muda bangsa yang perlu kita perhatikan dengan baik dan sepenuh hati.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa peduli dan perhatian terhadap perkembangan generasi bangsa.🙏😊


Penyonggok, 13 Juli 2026
Latest
Previous
Next Post »