Sekitar pukul 4 sore Arsyi dan Afika tiba di rumah. Aku belum sholat Asar, sengaja menunggu mereka datang dulu baru sholat.
Tempat belajar telah ku siapkan. Tiga buah meja belajar yang bisa mereka pilih motifnya.
Aku menghampiri mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Arsyi sepertinya bad mood pada Afika. Entah apa penyebabnya.
Arsyi memilih duduk menjauh dari Afika. Dengan wajah sebal. Aku mencoba bertanya padanya, ia diam. Dua kali, hingga ku sadari mungkin ia tak suka diinterogasi.
Aku mencoba mencairkan suasa dengan membuat bimbingan dengan aktivitas mewarnai gambar. Ku tunjukkan hasil mewarnai gambar ku, meski penyelesaian nya baru sekitar 60%. Arsyi mengeluarkan tugas mewarnai dari gurunya di sekolah. Afika meminta lembar mewarnai baru.
Perlahan, mood arsyi mulai membaik. Ia mulai tersenyum, meski duduknya masih menjauh dari Afika. Ku tawarkan soal matematika padanya. Ia meminta soal perkalian. Afika masih operasi hitung dasar dalam bentuk pilihan ganda dan uraian.
Anak-anak harus bahagia. Itu konsep dasar yang usahakan untuk terjadi. Perlahan tapi pasti, wajah Arsyi mulai berubah, terutama ketika ia mulai mengerjakan lembar kerja matematika yang ku berikan terkait dengan operasi perkalian.
Afika masih fokus latihan membaca sambil menyelesaikan soal matematika, operasi hitung dasar.
Aku beranjak meninggalkan mereka, mengambil spidol whiteboard. Ku tawarkan spidol itu ke mereka, yang kemudian di sambut Arsyi dengan semangat, begitu juga dengan Afika.
"Aku ingin menggambar di papan tulis" Ucap Arsyi.
"Mau gambar apa?" Tanyaku. Arsyi diam, bingung mau gambar apa. Ia terlihat berfikir sejenak.
"Bu, aku mau gambar orang. Tapi gak bisa" Jawabnya.
"Bikin Kepalanya dulu" Jawabku. Arsyi membuat lingkaran kecil.
"Gak bisa bikin matanya bu" Ujarnya.
"Sini, ibu kasih contoh" Jawabku sambil meminta spidol yang ia pegang. Aku mulai mencontohkan bagaimana membuat mata, bibir, alis, telinga, rambut dan seterusnya hingga terbentuk gambar anak kecil dengan rambut sebahu mengenakan baju kaos dan rok.
"Nah, faham kan sekarang bagaimana cara bikinnya?" Tanyaku.
"Ya, bu. Aku mau coba bikin" Jawabnya. Lalu membuat gambar anak kecil yang mirip di sebelah gambar yang ku buat.
Sementara itu, aku mengajak Afika membuat pohon berhitung. Mulai operasi penjumlahan, pengurangan.
"Ayo, mulai belajar perkalian" Ucapku. Karena Afika sekarang sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Sudah seharusnya ia faham operasi perkalian bilangan cacah.
"Gak bisa" Jawabnya.
"Makanya, sekarang ibu ajarin". Jawabku.
Aku mulai menuliskan perkalian bilangan yang ku mulai dengan angka kecil. Memberi contoh bagaimana cara menghitungnya. Afika memperhatikan. Lalu mencoba menghitung soal-soal berikutnya yang telah ku tuliskan di papan tulis yang tadi sengaja ku bagi dua.
Afika bersemangat mengerjakan soal-soal tersebut. Ia cepat faham ketika dijelaskan. Hanya saja, matematika selalu butuh pengulangan. Sayangnya, hari ini aku tak menyiapkan lembar kerja perkalian yang bisa ia bawa pulang.
Melihat Afika bersemangat. Arsyi meminta diajarin operasi pembagian. Aku setuju, lalu menulis soal pembagian sederhana dengan bilangan bernilai kecil. Ia bisa. Aku mengapresiasi tersebut dengan kata-kata takjub akan kemampuannya. Aku menuliskan angka yang lebih besar, ia mulai bingung. Lalu ku ambilkan sempoa dan menjelaskan bagaimana itu bisa dioperasikan.
Aku belum lancar membaca dan menulis. Ku ajak dia membuat cerita dengan menulis setiap kata yang ku dikte kan kepadanya. Setelah selesai ku minta ia membuat ilustrasi yang hasilnya bisa dilihat pada foto yang ku tampilkan dalam tulisan ini. Arsyi tertarik untuk membuat, lalu ku dikte kan kalimat awal yang kemudian ia sambung dengan cerita tentang temannya yang bertengkar di kelas. Lalu, sama seperti Afika, ku minta ia membuat ilustrasi.
Ada satu hal yang selalu ku pegang dan ku yakini dalam proses membimbing anak-anak belajar. Bahwa sebenarnya tak ada anak malas, yang ada adalah anak belum mendapat dukungan yang relevan terkait hal itu lalu membuat mereka akhirnya memilih sesuatu yang menyenangkan mereka, bermain dengan teman atau mungkin yang lainnya yang jauh dari aktivitas belajar. Buktinya, setiap datang ke rumah, anak-anak yang awalnya bad mood, malas-malasan akhirnya bisa bersemangat melakukan aktivitas yang kita sebut belajar. Seperti yang terjadi hari ini.
Penyonggok, 5 Agustus 2026
Sign up here with your email


ConversionConversion EmoticonEmoticon