>

Tuhan Tak Pernah Ingkar Janji

 

Sekitar pukul 10 pagi aku membeli es kopi di salah seorang kawan lamaku waktu SD dulu yang buka kios di dekat madrasah tempat ku bekerja. Ia jual dengan harga Rp4.000,00. 

Kebetulan uang yang ku pegang pecahan 5 ribu. Saat es kopi tersebut ready ku sodorkan uang tersebut tanpa berharap kembalian. 

"Bayarnya pakai harga teman. Tidak usah kasih kembalian" Ucapku. 

"Harga teman? Hahaha" Responnya. Ia mungkin tak mengira aku akan bersikap seperti itu. Karena biasanya harga teman selalu identik dengan harga lebih murah. 

Tak ada maksud apa-apa ketika melebihkan bayaran. Aku punya kembali Rp1.000,00. Aku masih bisa mengikhlaskan nominal itu, toh dia teman lamaku. Gak perlu perhitungan. Hitung-hitung sebagai bentuk dukungan terhadap nya sekaligus untuk meningkatkan keakraban di antara kami. 

Tiba di madrasah, aku mencoba mencicipi es kopi tersebut. Enak, untuk harga segitu. Ku apresiasi minuman tersebut melalu status Whatsapp yang tentu saja tak akan terbaca oleh temanku itu (kami tak saling menyimpan nomor masing-masing). Itung-itung bantu promo untuk dia. 

*** 

Mengingat sekarang bulan Agustus, proses pembelajaran di kelas sering tidak bisa dilaksanakan karena siswa diarahkan untuk memeriahkan moment Agustusan. Anak-anak yang ikut bimbel banyak yang ikut berpartisipasi dalam agenda perayaan hari kemerdekaan. Setelah dipikir-pikir, aku akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan mereka libur bimbingan di rumah, kecuali beberapa anak kelas 2 yang tidak dilibatkan oleh sekolah mereka. 

Wali murid mengiyakan tanpa komplain. Salah satu di antaranya meminta nomer rekening bank ku untuk transfer pembayaran biaya bimbingan bulan ini. 

"Saya harus lihat catatannya dulu bu, seingat saya, adek belum 8 kali pertemuan" Jelasku. Karena memang untuk pembayaran bimbingan belajar selalu dilakukan setelah pertemuan dilakukan 8 kali. 

Setelah di rumah, ku periksa catatan waktu belajar anak yang dimaksud. Benar seperti dugaanku tadi pagi, bimbingan baru dilakukan sebanyak 5 kali. Dengan begitu, yang harus dibayar adalah 5 × 25.000 = Rp125.000,00. 

Ku kirim kabar itu ke orang tua yang bertanya tadi dengan melampirkan catatan tersebut. Lalu mengirimkan nomer rekening bank ku kepadanya. Beberapa menit kemudian screenshot bukti transfer ku terima darinya, tertera angka 200.000. Lebih 75 rb dari yang seharusnya. Aku mencoba konfirmasi, siapa tau dia salah tekan angka. Aku berniat akan transfer balik jika memang ia salah tekan. 

"Tidak salah bu, saya memang sengaja" Jelasnya. 

"Oh geh, Terima kasih!" Jawabku. Tak mungkin ku tolak niat baik seseorang. Sama seperti diriku kalau ngasih ke orang, lalu ditolak, aku pasti tersinggung. 

"Sama-sama Bu guru" Jawabannya. 

*** 

Tentang apa yang terjadi hari ini, aku berfikir "cepat sekali Tuhan memberi balasan atas apa yang ku lakukan. Tadi pagi aku melebihkan 1 rb. Siangnya aku dibalas dengan 75 rb. 75 kali lipat. Subhanallah!" 

Terima kasih Tuhan! 

Kau memang tak pernah mengingkari janji-Mu! 


Penyonggok, 6 Agustus 2026


Previous
Next Post »