Berbeda dengan kali ini. Aku sedang mempertimbangkan untuk upgrade bahan bakar menuju Pertamax. Yang harganya hampir dua kali lipat dari harga Pertalite.
Seperti yang ku ceritakan pada tulisan sebelumnya, Pertalite sedang limit, membuat beberapa pedagang pengecer menaikan harga jual. Bahkan kabarnya ada yang sampai hati jual yang oplosan, yang kabarnya membuat mesin sepeda motor pembelinya mengalami kerusakan.
Sekitar pukul 10.30 WITA aku pulang dari madrasah. Dalam perjalanan pulang ku lihat ada pedagang yang menjejerkan botol bensin Pertalite. Aku berhenti, hendak mengisi.
"Berapa pak harganya?" Tanyaku ke penjual.
"15 ribu bu! Soalnya sedang limit" Jawabannya.
"Ya, sudah Pak. Gak jadi!" Ucapku lalu pergi. Mungkin si Bapak kecewa gak jadi dapat untung lebih sebagai dampak kondisi yang terjadi. Bagiku masa bodo! Siapa suruh naikin harga semena-mena? Bayangin dari angka 10 ribu di Pom Bensin dia ngambil untuk 5 ribu. 50% dari modal. Aku memang mampu bayar, tapi bagaimana dengan orang-orang yang mengalami kondisi ekonomi sulit? Tidak adakah empati untuk hal tersebut?
Aku pulang dengan jarum indikator semakin masih mendekati tanda merah. Pergerakannya tentu saja lambat karena jarak tempuh rumah dengan tempat kerjaku tak terlalu jauh. Bahkan untuk bolak-balik ke Kotaraja juga masih aman. Tapi, demi kenyamanan hati tangki minyak harus segera diisi. Rencananya nanti saat balik nganter anak sekolah. Secara dia masuk jadwal siang.
Aku melihat penjual bensin sepanjang jalan. Beberapa penjual menyediakan Pertalite. Tapi kebanyakan jual Pertamax. Selain untuk kasih pelajaran ke penjual Pertalite (dengan tidak membelinya) aku juga khawatir dengan keaslian Pertalite yang ku beli. Maka, dengan mantap ku putuskan untuk beli Pertamax.
Aku berhenti di depan SMPN 2 Sikur. Tempat penjual bensin Pertamax. Di sini sebenarnya aku agak heran dengan warna Pertamax nya. Lebih jernih dari penjual lainnya. Hmm... Mungkin pengaruh kebersihan botol. Aku baik sangka saja.
"Berapa Pak?" Tanyaku setelah ia mengisikan satu botol Pertamax ke tangki minyak motorku.
"18 ribu" Jawabnya.
Ku sodorkan uang pecahan 50 ribu kepadanya. Setelah menerima kembalian, ku nyalakan mesin motor dan melaju untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, ada sesuatu yang terasa berbeda. Laju motor terasa lebih ringan dari biasanya. Harga memang tak pernah bohong. Untung aku gak jadi isi Pertalite tadi.
Penyonggok, 7 Agustus 2026
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon