>

Catatan 88: Pemimpin dan Kepemimpinan

Malam ini salah seorang temanku, Humaira bertanya tentang kepemimpinan. Seharusnya ia bertanya kepada para ahli yang ia temui dalam setiap perkuliahan yang ia hadiri. Namun, ternyata pertanyaan itu diberikan kepadaku. Melalui pesan singkatnya ia bertanya, “Bagaimana ketika orang percaya kepada kita untuk memimpin mereka sementara kita tidak percaya terhadap diri sendiri?”

“Ketika kepemimpinan itu sebatas kelas atau kelompok kecil maka terima saja dan niatkan sebagai tempat belajar untuk memimpin, tetapi jika wilayah kepemimpinan itu lebih luas tentu perlu dipikir-pikir” Jawabku. Aku tak tahu apakah itu jawaban yang harus diberikan atau tidak, tetapi keyakinanku mengatakan bahwa itulah jawaban terbaik yang harus diberikan. Sebab setiap orang harus memiliki jiwa pemimpin, minimal untuk kepemimpinan untuk diri sendiri.

Jika ada pemimpin maka akan ada yang dipimpin. Dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas semua hal yang terjadi di wilayah kepemimpinannya. Itulah mengapa ku sarankan kepada Humaira agar ia memikirkan kembali kepercayaan itu jika ternyata wilayah kepemimpinanya cukup luas, sebab melihat siapa dia sekarang dan kapasitas yang ia miliki tentu banyak hal yang akan luput dari kewajiban yang harus ia jalani sebagai seorang pemimpin. Bukan aku meremehkan kapasitas yang ia miliki hari ini, tetapi karena aku mengenalnya cukup baik maka kuberikan jawaban itu. Ia adalah salah seorang yang mulai memiliki kesadaran kritis terhadap realita yang ada, hanya saja kesadaran itu masih dalam tahap awal. Jadi, ia harus banyak belajar sebelum akhirnya menerima kepercayaan orang lain dalam hal kepemimpinan dalam skala yang luas. Apalagi melihat situasi dan kondisi hari ini, bisa saja bahwa kepercayaan diberikan oleh orang-orang tersebut memiliki motif yang tidak baik. Bukan bermaksud berburuk sangka, melainkan waspada.

Menarik garis dari hal tersebut dan melihat realita yang terjadi hari ini dimana kepemimpinan menjadi barang rebutan oleh beberapa orang atau beberapa golongan yang akhirnya bahu membahu berjuang merebut posisi itu, bahkan tak segan-segan melakukan pelanggaran etika kemanusiaan, mencederai norma-norma yang kemudian oleh generasi dianggap sebagai suatu hal yang lumrah. Kepemimpinan identik dengan tanggung jawab atas setiap nasib masyarakat yang ada diwilayah yang dipimpin, mulai dari pendidikan, kesehatan dan sebagainya dimana kepempimpinan itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Tetapi mungkin ketika ambisi untuk memimpin itu memuncak, orang-orang itu tak sempat berfikir tentang hal tersebut kecuali melihatnya sebagai suatu kehormatan untuk meraup keuntungan yang bersifat material. 

Previous
Next Post »