>

Catatan 90: Transaksi Jual Beli

Bukan masalah harga tetapi etika
Bukan masalah uang tetapi kesopanan

Seorang ibu menjual barang kepada seorang pedangan, sepuluh ikat sapu lidi yang dia hargai Rp 4.000,00 per ikat. Kesepakatan terjadi namun tidak diikuti oleh transaksi langsung. Maka, atas dasar kepercayaan maka sang ibu menyerahkan barangnya kepada sang pedangang dengan perjanjian bahwa barang tersebut akan dibayar sore harinya.

Namun, karena lupa sang ibu tak mengunjungi sang pedagang. Dan sang pedagang pun tak menghampiri sang ibu, mungkin karena adanya asumsi bahwa ia sang ibulah yang akan ke tempatnya. Dua hari berlalu, sang ibu baru ingat tentang barangnya. Ia pun menghampiri sang pedagang untuk mengambil uang pembayaran yang harus diterima. Tetapi,  sang pedagang memberikan jawaban bahwa  uang yang hendak diberikan kepadanya (sang ibu) terlanjur dibelanjakan. Maka, sang ibu pun menjelaskan bahwa barang itu merupakan barang titipan orang dan berharap bisa menerima bayarnya besok pagi.

Keesokan harinya sang pedagang menghampiri sang ibu, memberikan bayar atas barang yang ia beli darinya. Ketika menghitung nominal uang yang diterima jumlahnya hanya Rp 30.000. “Kok segini?” Tanya sang ibu kepada pedagang.

“Sekarang lagi sepi pembeli. Saya bayar segitu saja” Jawab sang pedagang

“Loh gimana? Kok bisa begitu?”

“Ya, soalnya sekarang lagi sepi, jadi saya bayar segitu saja. Itu juga barangnya entah laku kapan!”

Maka, sang ibu hanya diam menerima, tak mampu berkata lagi. Minimal ia bersyukur bahwa barang itu dibayar meski kurang.

Kisah di atas adalah kisah nyata.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut.

Previous
Next Post »