>

Catatan 165: Ekaning Benawi dan Perpustakaan Kelas X-MIA


3 Nopember 2016.
Aku mulai berkenalan dengan salah seorang anggota Pustaka Sahabat yang salah satu kegiatannya adalah memberikan sumbangan buku bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Perkenalan ini diawali dengan rekmendasi salah seorang kawan, lebih tepatnya kakak kelasku waktu duduk di bangku SMA., Suriani. Dia menyarankan agar aku meminta bantuan penambahan koleksi buku untuk taman baca.

“Beneran nih?” Tanyaku takjub.

“Benar banget kakak!” Balas Yuliana, kawan facebook yang menandai Suriani dalam postingan statusnya di facebook.

“Caranya gimana? Tapi saya belum punya taman baca... yang ada perpustakaan kelas yang dibangun bersama siswa. Disana saya berperan sebagai wali kelasnya. Bisa saya minta sumbangan buku untuk perpustakaan kelas tersebut?” Tanyaku

“Coba colek kakak Ekaning Benawi... Insya Allah akan dibantu!” Jawab Yuliana

***

“Hai mbak Kim Noe , bisa banget! Ntar Pustaka Sahabat akan membantu mensuport, di data aja kebutuhannya apa? Sekalian jenis bacaannya!” Tiba-tiba Mbak Ekaning membalas di kolom komentar beberapa saat kemudian.

“Ya Allah, terima kasih mbak!” Balasku repleks. Gak nyanga akan dapet respon seperti itu.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah bahan bacaan untuk siswa tingkat SMA/MA mbak, fiksi dan nonfiksi, terutama yang bisa namah semangat belajar” Imbuhku.

“Oke, saya punya beberapa buku SMA dan novel. Nanti saya titipkan di teman saya Fathul Rahman” Balas Mbak Ekaning.

“Terima kasih mbak. Semoga tetap sehat dan rizkinya lancar!”

***

11 Nopember 2016
Yuliana memberi kabar bahwa buku dari mbak Ekaning sudah ada di Mataram. “Alhamdulillah!” Ucapku dalam hati. Dan yang membuatku sangat bersyukur adalah sumbangan itu kami peroleh tanpa profosal berjilid yang harus diajukan seperti yang umum terjadi. Modalnya hanya satu “kepercayaan satu sama lain untuk saling membantu dalam perjuangan mencerdaskan generasi muda”.

***
Yuliana mengabarkan bahwa buku-buku tersebut dititipkan ke Fathul Rahman yang besok pagi akan ke Lombok Timur. Aku senangnya luar biasa mendengar hal tersebut. Dan Tak lupa ku kabarkan hal tersebut kepada siswa. Dan mereka pun tak kalah gembiranya dan gak sabaran ingin membacanya (Sebagai bukti bahwa anak-anak haus akan bahan bacaan)

12 Nopember 2016
Fathul memberi kabar bahwa ia lupa membawa buku-buku tersebut. Itu berarti bahwa bukunya masih ada di Mataram. Aku berfikir bagaimana caranya agar buku-buku tersebut segera diterima sama anak-anak (siswa maksudku). Haruskah aku ke Mataram? Tapi sama siapa? Bingung!

***

15 Nopember 2016
Ku periksa daftar kontak di handphone ku, mencari nama teman yang kira-kira bisa membantu.

Aha! Ketemu!
Namanya Ulfa, mahasiswa IKIP Mataram yang pernah penelitian di SMP dan saat itu aku berperan sebagai pendampingnya. Di tambah poin penting bahwa dia satu kawasan dengan tempat tinggalku. Dan ketika ku hubungi, dia siap menjadi utusan untuk mengambil buku-buku itu untuk kami!

Alhamdulillah!

Terima kasih Mbak Ekaning Benawi!
Terima kasih Kak Suriani Mursal!
Terima Kasih Kak Fathul Rahman!
Terima kasih Dek Yuliana!
Dan terima kasih Dek Ulfa!

Tentunya balasan dari Tuhan adalah yang terbaik,semoga kalian segera mendapatkannya!
Amiiin!




Previous
Next Post »