>

Kelaq Kuning Ikan Nila

 

Lelah dan tak ada waktu adalah hal yang selalu menjadi alasan utama untuk tak menghidupkan kompor di dapur. Yang akhirnya membuatku mengambil keputusan untuk membeli makanan jadi. Entah itu nasi bungkus, atau lauknya saja. 

Kalau bisa memilih, sebenarnya aku akan memilih untuk masak sendiri. Dengan begitu aku bisa melakukan kontrol penuh atas kualitas bahan makanan. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kesehatan. Namun, ya alasan tadi selalu menjadi penyebab tak bisanya aku memasak makanan sendiri. 

Aku perempuan bekerja, juga sebagai ibu rumah tangga. Maka, waktuku terbagi menjadi beberapa bagian. Pagi, di sekolah. Siang nganter anak sekolah. Abis itu bersihin rumah plus istirahat (tidur beberapa menit sebelum waktu sholat asar berkumandang), sebab selesai sholat asar ada anak-anak yang bimbingan belajar di rumah hingga pukul 6 sore. 

Terkait hal tersebut, aku tak ingin mengeluh. Aku hanya berharap Tuhan memberiku banyak energi agar bisa melakukan semua itu. Karena begitu malam, pekerjaan belum selesai. Ada bahan ajar yang harus disiapkan untuk siswa di sekolah juga anak-anak yang belajar sore di rumah. 

***

Sore tadi anak-anak libur bimbingan. Katanya ikut latihan gerak jalan untuk persiapan lomba agustusan. Bagiku tak masalah. Itu bagian dari pilihan mereka. Tapi tentu saja setiap pilihan yang dibuat memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah penurunan skil matematika mereka. Sebab, butuh intensitas yang baik untuk memilih kemampuan matematika yang baik. Kalau sekarang ada jeda... Ah, semoga saja mereka rajin belajar di rumah masing-masing. 

Malam ini, setelah sholat maghrib, ku putuskan untuk memasak ikan nila yang ku beli kemarin. Dua ekor ukuran sedang seharga Rp17.000,00. Kalau itu setengah kilo berarti sekarang harga ikan nila di kios adalah Rp34.000,00. Kalau beli nya di pasar mungkin bisa dapet harga 30 ribu. Tapi masih dalam kondisi kotor. Jadi, lebih baik beli di kios, apalagi pedagang kios bersedia membersihkannya. 

Adapun bumbu kelak kuning yang ku gunakan antara lain: 

1. Pada

2. Jahe

3. Kunyit

4. Bawang putih

5. Terasi

6. Cabe rawit 

7. Cabe merah

8. Lengkuas

9. Asam

10. Gula merah (produk asli Tetebatu) 

11. Penyedap rasa

12. Kaldu bubuk 

13. Garam

14. Bawang merah muda

15. Minyak goreng

16. Air

17. Bawang goreng

Untuk takaran pakai perasaan saja. Gak pake gram2 an saja. Kecuali air ku gunakan 3 gelas ukuran 200 ml. 

Hasilnya? 

Enak dong. Manisnya pas karena pake gula merah asli produk lokal. Sepertinya akan berbeda jika pakai gula pasir atau gula merah yang dijual di pasar. Dan gak pedes. Meski aku orang Lombok asli, aku gak bisa makan pedes. 

Foto makanan yang sudah jadi mana? 

Mungkin kau bertanya seperti itu. 

Hmmm, sedang males memotret. Cukup bumbu bersama ulekannya saja ya. Sebagai pemanis. Kapan-kapan, mungkin tulisanku akan ku sertai dengan foto yang lebih lengkap. 

Penyonggok - Tetebatu Selatan, 4 Agustus 2026

Previous
Next Post »