>

Kelas 10.2

 


Hari ini aku tiba di kelas pukul 8 pagi lewat beberapa menit. Di SK mengajar sebenarnya aku harus sudah berada di dalam kelas jam 7.30 Wita. Namun, karena di jam pagi aku sering ada halangan untuk tepat waktu, aku minta tolong ke guru BP untuk tukeran jam mengajar. Dan deal mulai sabtu ini. 

Begitu tiba di kelas, ku lihat kondisi kelas sangat kotor. Banyak sampah berserakan. Tak mungkin proses pembelajaran matematika di mulai. Tapi, pembelajaran tentang kepedulian terhadap lingkungan harus dilaksanakan. 

Aku menuju tempat jadwal piket kelas ditempel. Membaca nama petugaa piket hari ini, dan menginstruksikan kepada mereka untuk membersihkan kelas. 

Sapu di kelas hanya tiga. Sementara kelas sangat kotor. Aku beranjak meninggalkan kelas menuju kelas 10.1 untuk meminjam sapu mereka. Kelas harus segera bersih agar pembelajaran matematika bisa dimulai. 

Sekitar 30 menit, kelas akhirnya bersih meski tingkat kebersihannya belum 100%. Masih ada sampah tertinggal, kulit tolang bagek masih terlihat merana di bawah bangku siswa. Juga satu plastik air kemasan gelas ikut melambaikan tangan untuk memberitahukan keberadaannya. 

Ku minta Malik untuk mengambilnya. Mengantar sampah plastik tersebut ke tempat sampah. Malik patuh tanpa protes. 

Nama siswa mulai ku panggil satu persatu sambil tanya jawab dengan mereka tentang operasi perkalian. Hingga saat ini masih banyak yang tidak hapal. Ini masalah mengingat tingkat sekolah mereka sudah sudah berada di tingkat menengah atas. Namun, sebagai guru yang sudah hampir 10 tahun berperan sebagai pendidik, bagiku ini adalah bagian dari masalah yang harus segera di atasi. Bagaimana pun mereka adalah korban dari realita hari ini. Bagi ku masih lebih baik mereka tidak bisa tapi bersekolah daripada berhenti sekolah hanya karena tidak hapal operasi perkalian yang seharusnya sudah mereka tuntaskan waktu duduk di tingkat dasar. 

Hal ini selalu menjadi PR bagi guru-guru di daerah pinggir. Kalau kondisi siswa di kota 90% aku tidak tahu. Namun, seperti yang ku katakan tadi mereka adalah korban dari banyak hal. Dari media sosial, dari lingkungan yang mungkin tak bisa memahami potensi mereka, bahkan dari orang tua yang tau nya hanya punya anak dan kasih makan agar tetap hidup tanpa berpikir bagaimana perkembangan kecerdasan anak mereka. 

Anak-anak hari ini sebenarnya bingung dengan diri mereka, bingung dengan apa hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan. Ini menurut ku. Maka, menyadari hal ini aku mulai melakukan pendampingan/fasilitator di kelas. Agar mereka mencintai apa yang mereka lakukan, agar mereka bahagia dalam proses pendidikan yang mereka jalani. Dan agar mereka mulai menyadari bahwa mereka tak tau apa-apa, lalu melakukan sesuatu untuk berubah ke arah yang lebih baik. 

***

Pukul 9 lebih beberapa menit forum diskusi di kelas dimulai. Siswa diskusi di bawah bimbingan ku. Mencoba memahami sifat-sifat dari eksponen lalu menggunakannya untuk menyederhanakan ekspresi juga untuk menentukan nilai suatu eksponen. 

Tak mungkin aku membiarkan mereka diskusi mandiri. Orang bisa diskusi karena faham tentang apa yang mau didiskusikan, punya data mentah untuk di olah dan di adu argumen kan. Masalahnya siswa ku tak memiliki semua itu, tentunya dalam hal konsep matematika, juga aplikasinya. 

Seingatku dan kalau tidak salah, pemerintah menitikberatkan penggunaan saintifik learning sebagai model proses pembelajaran. Tapi, dalam hal ini aku tidak bisa melakukan itu. Untuk apa menemukan kembali apa yang sudah ditemukan, dan kemampuan siswaku tidak sampai di kapasitas itu. Orang bisa menemukan sesuatu karena di otaknya tersimpan ribuan bahkan jutaan teori dasar untuk memahami bahwa apa yang ditemukannya itu berharga atau tidak, juga kemampuan bahasa yang bagus untuk menuangkan gagasan yang ada di otaknya tentang apa yang telah ditemukan. Butuh bahasa dan logika yang baik untuk melakukannya.  Sementara itu siswaku... Yang skill seharusnya sudah menengah atas, malah masih berada di tingkat dasar. Tidak mungkin konsep penemuan ku terapkan di kelas, bisa-bisa malah aku yang ditemukan di Sakura Masbagik, memilih shoping daripada ngajar saking bingungnya. 

Maka, metode yang ku gunakan adalah metode deduktif. Umum ke khusus. Dengan melakukan pendampingan seperti mengajar bayi berjalan, atau mengajar anak SD membaca menghitung tahap awal. Ku jelaskan konsep ilmunya secara perlahan dengan bahasa yang mereka fahami, kalau pakai bahasa resmi matematika bisa eror otak mereka. Maka, bukan Saintifik Learning, tapi Quantum Learning yang bisa ku lakukan dengan super banyak modifikasi. 

Pernah baca atau dengar tentang Quantum Learning? 

Inti dari Quantum Learning adalah kita memasuki dunia anak. Penjelasan lebih lengkap cari bukunya saja, tapi yang penulisnya bukan orang Indonesia. Aku punya satu, insya allah nanti ku posting fotonya setelah ketemu. 

Alhamdulillah, hari ini berhasil. 

Salah satu indikator keberhasilan itu adalah siswa mulai menyukai belajar matematika. Konsep matematika menyebalkan sepertinya mulai hilang dari imajinasi mereka, meski beberapa orang masih males-malesan. Meski begitu, aku bersyukur atas kehadiran mereka di kelas, siapa tau suatu hari tergugah hatinya untuk mulai aktif berlajar, memunculkan potensi yang mereka miliki, potensi yang bagi orang lain tak terlihat sama sekali. 

"Ibu, saya tidak bisa mengerjakan nomor 6" Ucap salah seorang di antaranya. 

"Tidak masalah, kerjakan yang bisa kau kerjakan saja" Jawabku. 

"Tapi kalau salah bagaimana bu?" Ucapnya lagi. 

"Dalam matematika, salah bukan dosa. Asal tidak disengaja. Salah adalah tahap awal untuk perbaikan" Jelasku. 

Mereka kembali mengerjakan soal-soal yang ku berikan. 

"Bu, mau bertanya soal nomor 4" Ucap yang lain. 

"Sebentar, berikan ibu waktu untuk istirahat sejenak. Sekarang diskusikan dulu dengan teman-temannya. Diskusi dengan ibu nanti dulu ya!" Jelasku. 

Namun, istirahat bagi seorang guru bukan seperti istirahat nya para wisatawan, duduk santai sambil menyeruput jus buah. Saat istirahat, guru (dalam hal ini aku) tetap bekerja, melengkapi administrasi pembelajaran. Mulai dari mengisi jurnal kelas, dan jurnal mengajar, sambil mata sesekali melihat ke arah siswa, mereka bisa kerja kelompok dengan baik atau tidak. 

Endingnya. Tugas berhasil dikumpulkan sebelum jam kelur main berakhir. Dan yang paling penting dari semua itu adalah siswa terlihat sangat bahagia! 


Tetebatu Selatan, 8 Agustus 2026

Latest
Previous
Next Post »